Pamekasan, 12 Februari 2026 – Suasana khidmat namun penuh semangat menyelimuti Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 29 Pamekasan. Sebanyak 50 siswa mengikuti penyuluhan dan edukasi dari Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso di Surakarta.
Turut hadir perwakilan dari Dinas Sosial Kabupaten Pamekasan. Kehadiran perwakilan Dinas Sosial Pamekasan dalam acara ini semakin mempertegas betapa seriusnya komitmen pemerintah daerah dalam membentengi para remaja dari ancaman penyalahgunaan Nazpza.

Sinergi dan Pesan Mendalam dari Hati ke Hati
Acara dibuka dengan rangkaian sambutan dari perwakilan SRMP 29 Pamekasan, perwakilan Dinas Sosial Pamekasan, dan perwakilan dari Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso di Surakarta. Intinya mereka berkomitmen bahwa perlindungan terhadap anak muda, termasuk siswa di Sekolah Rakyat adalah investasi jangka panjang bagi keberlangsungan bangsa.
Dalam sambutan tersebut, terselip sebuah harapan mendalam agar para siswa benar-benar mampu menjauhkan diri dari segala bentuk pengaruh negatif. Siswa SRMP 29 Pamekasan sebagai tunas bangsa diharapkan mampu bertransformasi menjadi sosok yang membawa perubahan positif, atau dalam istilah spiritual disebut sebagai minadzulumati ilan nur—yakni mereka yang bergerak keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.
Melalui pendidikan di SRMP 29 Pamekasan, para siswa diharapkan tidak hanya menjadi pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi juga menjadi anak-anak yang bisa bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, serta bangsa dan negara.
Kepercayaan Diri vs Rokok
Memasuki sesi penyampaian materi, Tim IPRSKPN Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso di Surakarta mengajak para siswa berdiskusi mengenai pentingnya memiliki jati diri yang kuat agar tidak mudah goyah oleh tekanan teman sebaya.
Kepercayaan diri dianggap sebagai perisai paling ampuh yang harus dimiliki setiap individu untuk berani berkata “tidak” pada ajakan-ajakan yang merusak, termasuk penyalahgunaan Napza.

Suasana diskusi menjadi semakin hidup ketika seorang siswa melontarkan pertanyaan kritis yang sangat mendasar. Mengapa rokok dikategorikan sebagai bagian dari NAPZA?
Pertanyaan ini membuka ruang penjelasan mengenai zat adiktif. Dimana nikotin dalam kandungan rokok termasuk sebagai Napza (Narkotika, Psikotropikan dan zat adiktif lainnya), karena menimbulkan sensasi ketergantungan.
Baca Juga:
- Menjemput Indonesia Emas: Catatan Edukasi Bahaya Napza di Sekolah Rakyat Terintegrasi 49 Sumenep
- Kasihan, IPRSKPN STSS Edukasi Siswa 2 SMP di Bantul
- Wakil Menteri Sosial ke SRMA 19 Bantul: Kepercayaan Diri sebagai Kunci Anak Bangsa
Penjelasan ini menjadi penting untuk menyadarkan siswa bahwa rokok sering kali menjadi “pintu masuk” atau gateway drug yang menurunkan kewaspadaan seseorang terhadap zat yang lebih berbahaya.
Dengan memahami ini, siswa diharapkan lebih waspada terhadap kebiasaan-kebiasaan kecil yang tampak remeh namun berisiko besar bagi masa depan.
Menjawab Tantangan Bonus Demografi
Edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan Napza ini kemudian dikaitkan dengan tantangan besar yang ada di depan mata, yakni bonus demografi.
Para siswa diberikan pemahaman bahwa mereka adalah aktor utama yang akan menentukan arah Indonesia Emas 2045. Keberhasilan bangsa dalam memanfaatkan ledakan usia produktif ini sangat bergantung pada kualitas kesehatan mental dan fisik generasinya.
Jika mereka terjebak dalam lingkaran setan penyalahgunaan Napza sejak dini, maka potensi besar tersebut akan sirna dan berubah menjadi beban sosial. Membangun integritas diri menjadi harga mati untuk menjawab tantangan masa depan tersebut.
Terima kasih telah membaca informasi ini. Silakan berbagi informasi dan pengetahuan melalui email atau kolom komentar. Semoga kita dapat membangun masyarakat yang lebih baik.
Masa depan bangsa ada di tangan mereka yang hari ini kita lindungi dan kita didik. Dengan menjauhkan remaja dari NAPZA, kita tidak hanya menyelamatkan satu nyawa, tetapi kita sedang memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Generasi sehat, bangsa hebat!
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, para siswa diminta untuk mengisi lembar soal evaluasi. Lembar soal tersebut menjadi sarana pengingat tentang poin-poin krusial yang telah dipelajari, sekaligus menjadi tolok ukur bagi penyelenggara untuk melihat sejauh mana pesan mengenai bahaya NAPZA dan penguatan karakter ini meresap ke dalam pemikiran mereka.
Melalui langkah kecil dari Pamekasan ini, terselip doa agar 50 siswa tersebut tumbuh menjadi pribadi yang bersih, teguh, dan benar-benar menjadi penerang bagi lingkungannya.