Penguatan kapasitas masyarakat terkait pemetaan risiko bencana merupakan langkah penting dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana. Kapasitas yang kuat memungkinkan masyarakat untuk memahami risiko bencana, melakukan langkah-langkah pencegahan, dan merespon situasi darurat dengan tepat.

Tentu saja semua itu membutuhkan komitmen dan kerjasama dari semua pihak, termasuk Masyarakat lokal. Sehingga dengan kerjasama dan komitmen yang kuat, akan dapat membangun masyarakat yang tangguh dan siap menghadapi bencana alam.

Pengetahuan lokal tentang kebencanaan merupakan sumber daya berharga yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana. Pengetahuan lokal dapat dibagikan dengan memanfaatkan teknologi informasi, sehingga dapat diakses masyarakat luas dan meningkatkan efektivitas pengurangan risiko bencana, termasuk bagi kelompok rentan.

pemetaan risiko bencana

Siapa saja kelompok rentan dalam situasi bencana

Kelompok rentan dalam bencana adalah kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena dampak bencana. Beberapa kelompok yang termasuk dalam kelompok rentan antara lain:

Anak-anak

Anak-anak lebih rentan terhadap dampak bencana karena fisik mereka yang masih lemah dan belum memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri sendiri. Selain itu mereka juga lebih mudah mengalami trauma psikologis akibat bencana.

Lanjut usia (Lansia)

Lansia memiliki risiko kesehatan yang lebih tinggi dan membutuhkan bantuan khusus dalam situasi darurat. Lansia juga mungkin akan mengalami kesulitan untuk bergerak dan evakuasi diri sendiri.

Penyandang Disabilitas

Penyandang disabilitas sangat mungkin memiliki kesulitan untuk bergerak, berkomunikasi, dan memahami informasi dalam situasi darurat. Termasuk tingkat kesulitan diantara penyandang disabilitas yang berbeda. Oleh karena itu sangat mungkin mereka membutuhkan bantuan khusus dalam evakuasi dan akses ke layanan darurat.

Ibu Hamil dan Menyusui

Ibu hamil dan menyusui memiliki kebutuhan nutrisi dan kesehatan yang khusus. Ibu hamil dan menyusui juga lebih rentan terhadap stres dan trauma psikologis akibat bencana.

Orang Sakit dan Kronis

Orang sakit dan kronis membutuhkan akses ke obat-obatan dan layanan kesehatan yang berkelanjutan. Terlebih dalam situasi bencana, tentu mereka akan lebih rentan terhadap komplikasi kesehatan akibat bencana.

Masyarakat Miskin

Masyarakat miskin memiliki akses yang lebih terbatas terhadap sumber daya dan informasi. Masyarakat miskin akan lebih sulit, terutama untuk pulih dari dampak bencana.

Pengungsi dan Migran

Tidak adanya tempat tinggal yang permanen dan akses yang terbatas terhadap layanan publik akan membuat pengungsi dan migran menjadi rentan terhadap eksploitasi dan diskriminasi.

Untuk itu menjadi penting memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan dalam situasi bencana. Berbagai elemen pemangku kepentingan perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa kelompok rentan mendapatkan akses yang sama terhadap bantuan dan layanan darurat.

Pemanfaatan Teknologi Informasi

Pemanfaatan pengetahuan lokal dan teknologi informasi dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan ketahanan dan membantu kelompok rentan dalam situasi bencana. Teknologi informasi dapat digunakan untuk:

  • Memdokumentasikan dan menyebarkan pengetahuan lokal. Pengetahuan lokal tentang kebencanaan dapat didokumentasikan dalam bentuk video, audio, atau teks dan disebarkan melalui media sosial, website, atau aplikasi mobile.

  • Membangun sistem informasi kebencanaan. Sistem informasi kebencanaan dapat berbentuk penyediaan informasi tentang risiko bencana, kesiapsiagaan, dan jalur evakuasi.

  • Mengembangkan alat bantu edukasi. Alat bantu edukasi seperti video animasi, infografis, dan permaianan dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengurangi risiko bencana.

Pemanfaatan pengetahuan lokal dengan teknologi informasi penanganan kebencanaan

Sistem Peringatan Dini Bencana

Sistem Peringatan Dini Bencana berbasis pengetahuan lokal adalah sistem yang memanfaatkan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat untuk mendeteksi dan memperingatkan terjadinya bencana alam. Sistem ini biasanya diwariskan secara turun-temurun dan telah terbukti efektif dalam membantu masyarakat untuk mengurangi risiko bencana.

Peringatan dini bencana berbasis pengetahuan lokal memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan sistem peringatan dini modern, antara lain:

  • Lebih murah dan mudah diakses, karena biasanya tidak memerlukan teknologi yang mahal dan canggih, sehingga mudah diakses oleh masyarakat di daerah terpencil.

  • Lebih mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat, karena menggunakan bahasa dan budaya yang dipahami masyarakat setempat.

  • Lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan, karena berbasis pengetahuan lokal dan dapat diadaptasi dengan perubahan lingkungan dan kondisi setempat.

Contoh sistem peringatan dini bencana berbasis pengetahuan lokal dilokasi pesisir yang rawan tsunami, misalnya:

  • ketika terlihat tanda-tanda alam (yang mengindikasikan akan terjadinya tsunami), seperti surutnya air laut secara tiba-tiba, hewan-hewan liar berlarian ke arah perbukitan, dan adanya suara gemuruh yang keras dari laut, maka itulah waktunya untuk segera naik ke perbukitan atau menjauh dari lokasi pantai untuk menyelamatkan diri.

  • menerapkan larangan untuk membangunan rumah di daerah pesisir yang rawan terkena gelombang tinggi, termasuk tsunami; dan

  • melarang untuk melakukan penebangan pohon (di hutan bakau) yang dapat melindungi pantai dari abrasi dan gelombang tinggi (termasuk tsunami).

Melakukan Edukasi dan Kesadaran Bencana kepada Masyarakat Rentan Bencana

Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan gunung meletus, merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak bencana. Oleh karena itu, edukasi dan peningkatan kesadaran tentang bencana sangat penting bagi mereka.

Baca Juga: Tips Tanggap Bencana, Saat Terjadi Gempa Bumi

Edukasi dan peningkatan kesadaran bencana sangat penting untuk membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Dengan edukasi dan kesadaran yang tinggi, masyarakat dapat memahami risiko bencana, melakukan langkah-langkah pencegahan, dan merespon situasi darurat dengan tepat.

Beberapa cara untuk meningkatkan edukasi dan kesadaran bencana kepada masyarakat rentan bencana:

Penyuluhan dan Sosialisasi

Melakukan penyuluhan dan sosialisasi secara berkala tentang jenis-jenis bencana yang dapat terjadi di wilayah mereka, tanda-tanda peringatan dini, dan langkah-langkah evakuasi, termasuk kriteria kelompok rentan pada situasi bencana. Melibatkan berbagai pihak dalam kegiatan penyuluhan dan sosialisasi. Dan menggunakan berbagai media komunikasi, seperti poster, pamflet, video, dan media sosial, untuk menyebarkan informasi tentang bencana.

Simulasi Bencana

Melakukan pelatihan kepada Masyarakat secara berkala untuk menghadapi situasi darurat. Simulasi perlu dirancang dengan mempertimbangkan jenis bencana yang paling mungkin terjadi di wilayah tersebut. Peran aktif masyarakat sangat penting dalam proses perencanaan dan pelaksanaan simulasi.

Pendidikan Bencana di Sekolah

Generasi muda, khususnya anak-anak perlu diberikan pemahaman mengenai risiko bencana. Mengintegrasikan pendidikan bencana ke dalam kurikulum sekolah menjadi penting agar mereka dapat memahami risiko bencana dan cara menyikapinya pada situasi pertama. Kegiatan edukasi yang menarik dan interaktif, seperti permainan, simulasi, dan eksperimen perlu untuk meningkatkan minat siswa terhadap pendidikan bencana, termasuk bagi guru dan staf sekolah dalam pelatihan tentang kesiapsiagaan bencana.

Pembentukan Komunitas Siaga Bencana

Masyarakat tingkat desa atau kelurahan selain sebagai korban bencana, juga merupakan potensi terdekat yang ada dilokasi terdampak bencana. Untuk itu membentuk komunitas siaga bencana di tingkat desa atau kelurahan penting untuk membantu dan menyiapkan mereka dalam menghadapi situasi darurat. Komunitas siaga bencana dapat dilatih untuk melakukan pertolongan pertama pada korban bencana, seperti memadamkan api dan melakukan evakuasi. Selain itu, mereka juga perlu disiapkan untuk dapat membantu dalam menyebarkan informasi tentang bencana dan meningkatkan kesadaran masyarakat.

Penyebaran informasi

Perkembangan teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi tentang bencana dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Mengembangkan aplikasi mobile yang berisi informasi tentang jenis-jenis bencana, tanda-tanda peringatan dini, dan langkah-langkah evakuasi juga dapat dilakukan.

Edukasi terkait kebencanaan perlu disesuaikan antara program edukasi dan peningkatan kesadaran bencana dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat setempat.

Pemetaan Risiko Bencana Melibatkan Partisipasi Masyarakat

Pemetaan risiko bencana adalah proses identifikasi, analisis, dan penilaian risiko bencana di suatu wilayah. Pemetaan ini penting untuk memahami kerentanan masyarakat terhadap bencana dan merumuskan langkah-langkah penanggulangan bencana yang tepat.

Partisipasi masyarakat dalam pemetaan risiko bencana sangatlah penting. Masyarakat memiliki pengetahuan dan pengalaman lokal yang berharga tentang bencana di wilayah mereka. Dengan melibatkan masyarakat, pemetaan risiko bencana dapat menghasilkan informasi yang lebih akurat dan komprehensif.

Manfaat melibatkan partisipasi masyarakat dalam pemetaan risiko bencana diantaranya adalah:

Meningkatkan akurasi data

Masyarakat memiliki pengetahuan tentang kondisi wilayah mereka, termasuk lokasi tempat tinggal, infrastruktur, dan sumber daya alam. Informasi ini dapat membantu dalam mengidentifikasi dan menganalisis risiko bencana.

Meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat

Ketika masyarakat terlibat dalam proses pemetaan risiko bencana, mereka akan lebih memahami risiko yang mereka hadapi dan lebih siap untuk mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko tersebut.

Meningkatkan kerjasama dan koordinasi

Pemetaan risiko bencana yang melibatkan partisipasi masyarakat dapat membantu membangun kerjasama dan koordinasi antara berbagai pihak terkait. Pemetaan risiko bencana yang melibatkan partisipasi masyarakat dapat menghasilkan informasi yang lebih akurat dan komprehensif, meningkatkan kepemilikan masyarakat, dan membangun kerjasama dan koordinasi antara berbagai pihak terkait. Hal ini akan membantu dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana alam.

Tantangan dalam melibatkan kelompok rentan

Beberapa tantangan dalam pelibatan kelompok rentan diantaranya, kendala akses teknologi dan sambungan internet, minim dan rendahnya tingkat literasi menyulitkan mereka untuk memahami dan menggunakan teknologi informasi, dan kebutuhan akan komitmen dan pendanaan jangka panjang yang dapat memastikan keberlanjutan program pemanfaatan pengetahuan lokal dengan teknologi informasi.

Loading