Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Istilah Predisposisi dan Presipitasi Bunuh Diri

Seseorang bisa saja melakukan tindakan bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Lalu timbul pertanyaan di benak kita, bukankah kematian adalah suatu kepastian? Agar kita tidak memvonis dengan pernyataan yang menyalahkan atau menghukum. Kita perlu mengenal istilah predisposisi dan presipitasi.

dorongan melakukan tindakan bunuh diri
Ilustrasi by www.freepik.com

Predisposisi bunuh diri

Predisposisi bunuh diri adalah faktor yang mendasari seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Bisa karena faktor kepribadian, faktor sosial, penyakit fisik, gangguan jiwa sebelumnya, atau dinamika kehidupan yang dialami seseorang. Sehingga faktor-faktor tersebut berpengaruh terhadap cara pandangnya menghadapi permasalahan.

Presipitasi bunuh diri

Presipitasi bunuh diri adalah faktor atau peristiwa pencetus yang memicu seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Mungkin saja seseorang sudah ada faktor predisposisi namun belum ada pencetus untuk mewujudkan niatnya.

Karakteristik Sebelum Melakukan Tindakan Bunuh Diri

Ambivalen

Keragu-raguan untuk mengambil Tindakan bunuh diri atau tidak. Hal ini ditandai dengan Kekakuan pikiran bahwa bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar.

Baca Juga: Fenomena Bunuh diri di Gunungkidul: 7 Aspek Yang Perlu Dikaji!

Impulsivitas

Dorongan bertindak tanpa berpikir. Hal ini ditunjukan dengan :

  • memiliki pemikiran, perasaan dan tindakan yang terbatas;
  • terus menerus berpikir mengenai bunuh diri dan tidak sanggup memikirkan jalan keluar lain dari masalahnya;
  • berpikir secara drastis bahwa bunuh dirilah yang mengakhiri dan menyelesaikan akumulasi dari persoalan-persoalan yang terjadi;
  • menganggap bunuh diri bisa menghindarkan mereka dari stres, frustasi dan depresi.

Impulsif

Mereka berpikir secara drastis bahwa bunuh diri akan mengakhiri dan menyelesaikan semua akumulasi dari persoalan-persoalan yang terjadi. Mereka menganggap bunuh diri bisa menghindarkan mereka dari stres, frsutasi dan depresi.

Dari tiga faktor tersebut yang paling penting diwaspadai adalah impulsivitas. Impulsivitas mungkin berlangsung beberapa saat saja. Tetapi ketika sarana dan prasarana tersedia dan kesempatan itu ada, sangat mungkin tindak bunuh diri bisa terlaksana.

Perlu informasi dan edukasi ketika dorongan impulsivitas itu muncul. Sudah seharusnya pelaku maupun orang terdekat menghubungi petugas medis atau langsung membawa ke rumah sakit. Karena impulsivitas merupakan kondisi kegawatdaruratan psikiatri.

Mengenali Perasaan dan Pikiran Melakukan Tindakan Bunuh Diri

Apapun masalahnya, perasaan dan pemikiran orang-orang yang mempunyai kecenderungan bunuh diri cenderung serupa di seluruh dunia.

PerasaanPikiran
Sedih, tertekanAku harap aku mati
KesepianAku tidak bisa melakukan apapun
Tidak berdayaSaya tidak sanggup lagi
Putus harapanSaya seorang pecundang dan beban bagi yang lain
Tidak bergunaOrang lain akan lebih bahagia tanpa saya
Tabel Perasaan dan pikiran

Banyak orang yang sulit memahami kenapa seseorang memiliki pemikiran untuk bunuh diri. Sementara yang lain tetap bertahan meskipun sama-sama mendapatkan tekanan hidup yang bermakna.

Alasan Melakukan Tindakan Bunuh Diri

Edwin S. Shneidman (1996) merangkum 10 pemikiran orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri. Berikut rangkumannya:

  1. Sasaran bunuh diri umumnya untuk mencari solusi.
  2. Tujuan bunuh diri pada umumnya adalah penghilangan kesadaran.
  3. Stimulus bunuh diri pada umumnya adalah rasa sakit psikologis yang tak dapat ditoleransi.
  4. Stresor dalam tindakan bunuh diri umumnya adalah kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi.
  5. Emosi umum yang dialami dalam bunuh diri adalah keputusasaan dan ketidakberdayaan.
  6. Kondisi kognitif yang umum dalam bunuh diri adalah ambivalensi.
  7. Kondisi perseptual yang umum dalam bunuh diri adalah bunuh diri merupakan keadaan terdesak.
  8. Tindakan yang umum dalam bunuh diri adalah agresi
  9. Tindakan interpersonal yang umum dalam bunuh diri adalah pengungkapan niat.
  10. Pola umum dalam bunuh diri adalah gaya konsistensi di sepanjang hidup.

Berdasarkan alasannya, bunuh diri terdiri atas:

Bunuh diri tipe histrionik atau tipe impulsif

Pelaku bunuh diri pada tipe ini melakukan bunuh diri hanya untuk mencari perhatian dari orang-orang terdekat. la mencari ketegangan yang ditimbulkan dari dari usaha bunuh diri.

Kondisi tersebut menimbulkan perasaan puas karena pelaku senang akan berspekulasi. Ciri khasnya adalah upaya bunuh diri yang berlebihan dan dilakukan secara berulang ulang.

Bunuh diri karena merasa tidak ada harapan

Pelaku bunuh diri merasa bahwa tidak ada lagi pilihan dalam mengatasi persoalan-persoalan dalam kehidupannya. Ia merasa jalan keluar satu-satunya adalah bunuh diri.

Bunuh diri karena halusinasi

Pelaku bunuh diri mengalami hulusinasi auditorik tipe memerintah (commanding) yang menyuruhnya untuk melakukan tindakan bunuh diri. Halusinasi ini biasanya dapat ditemui pada psikotik maupun pada pengguna zat psikoaktif.

Bunuh diri rasional

Pelaku melakukan suatu tindakan bunuh diri didasarkan atas alasan-alasan yang rasional menurut kepercayaannya. Misalnya para pelaku yang melakukan sabotase sebuah pesawat terbang dan melaksanakan aksi bom bunuh diri. Mereka menilai perbuatannya itu adalah tindakan yang mulia. Menganggap mati suci sebagai martir.

Mitos dan Fakta Tentang Bunuh Diri

Mitos dan fakta tentang bunuh diri yang beredar di masyarakat cukup banyak. Tak jarang justru menjadi faktor penghambat dalam memberikan pertolongan. Berikut tabel antara mitos dan fakta yang ditemukan pada kasus bunuh diri.

NoMitosFakta
1Orang yang bicara mengenai bunuh diri, tidak akan melakukannyaKebanyakan orang yang bunuh diri telah memberikan peringatan yang pasti dari keinginannya
2Orang dengan kecenderungan bunuh diri (suicidal people) berkeinginan mutlak untuk matiMayoritas dari mereka ambivalen (mendua, antara keinginan untuk bunuh diri tapi takut mati)
3Bunuh diri terjadi tanpa peringatanOrang dengan kecenderungan bunuh diri seringkali memberikan banyak indikasi
4Perbaikan setelah suatu krisis berarti risiko bunuh diri telah berakhirBanyak bunuh diri terjadi dalam periode perbaikan saat pasien telah mempunyai energi dan kembali ke pikiran putus asa untuk melakukan tindakan destruktif.
5sekali seseorang cenderung bunuh diri, ia selalu cenderung bunuh diri.pikiran bunuh diri tidak permanen dan untuk beberapa orang tidak akan melakukannya kembali
6hanya orang miskin yang melakukan bunuh diribunuh diri dapat terjadi pada semua orang tergantung pada keadaan sosial, lingkungan, ekonomi dan kesehatan jiwa
7bunuh diri selalu terjadi pada pasien gangguan jiwapasien gangguan jiwa mempunyai risiko lebih tinggi untuk bunuh diri, tapi bunuh diri dapat juga terjadi pada orang yang sehat fisik dan jiwanya
8menanyakan tentang pikiran bunuh diri dapat memicu orang untuk bunuh diribertanya tentang bunuh diri tak akan memicu bunuh diri. Bila tak menanyakan pikiran bunuh diri, tak akan dapat mengidentifikasi orang yang berisiko tinggi untuk bunuh diri
Tabel Mitos dan Fakta Bunuh Diri

Memahami mitos dan fakta akan menjadi dasar pertimbangan untuk melakukan pertolongan dan intervensi dini secara tepat sesuai kebutuhan. Bukan berdasarkan asumsi atau pendapat yang tidak berdasar.

  • TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN KAMU YANG TELAH MEMBACA TULISAN INI SAMPAI SINI.
  • Saya sangat senang bisa menyempatkan waktu di tengah kesibukan yang padat untuk membuat konten seperti ini.
  • Masukan dan kontribusi kamu sangat berarti bagi saya.
  • Jika kamu ingin menyampaikan masukan, atau berkontribusi dalam berbagi pengetahuan, pengalaman, serta informasi positif lainnya di website ariefrd.id, kamu bisa mengirimkan melalui email.

Semoga kita dapat bersama-sama membantu dalam membangun masyarakat yang lebih baik, dengan berbagi tulisan. Karena berbagi berarti berkehidupan! Sekali lagi, terima kasih banyak atas dukungannya, dan saya berharap semua aktivitas yang kita jalankan saat ini berjalan dengan baik dan dalam penyertaan yang ALLAH Yang Maha Kuasa. Salam sukses untuk Kita semua!

Sumber: Modul Penanganan Faktor Bunuh Risiko Bunuh Diri, Tim Penanganan dan Penanggulangan Bunuh Diri Kabupaten Gunungkidul.

Eksplorasi konten lain dari Ariefrd.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca