Ngembatpadas (23/2) – Dukungan ekonomi, mental psikologis, hingga kesehatan bagi para orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Melalui kegiatan bertajuk “Soeharso Tangguh Inklusi”, diharapkan setiap orang tua yang mengikuti kegiatan mendapatkan informasi dan akses rehabilitasi sosial yang tepat.
Perjalanan menuju masyarakat yang inklusif dimulai dari langkah nyata untuk memberdayakan unit terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga. Oleh karena itu Sentra Terpadu “Prof. Dr. Soeharso” di Surakarta, sebagai Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial RI, terus berupaya memperkuat peran sosial para Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial.

Dalam sambutannya, Camat Gemolong menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya program ini. Beliau menekankan bahwa dukungan terhadap perbaikan tumbuh kembang anak dan keluarga adalah investasi jangka panjang bagi kemajuan daerah.
Selain memberikan semangat kepada para peserta, beliau juga menyampaikan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa. Ia pun berharap kegiatan ini menjadi bekal berharga bagi generasi di Gemolong agar dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih baik di tengah keterbatasan yang ada.
Kolaborasi Strategis dan Pemenuhan Hak Anak Berkebutuhan Khusus
Kegiatan Soeharso Tangguh Inklusi ini diikuti sebanyak 30 orang tua dari wilayah Gemolong, Kalijambe, Plupuh, Miri, dan Tanon yang tergabung dalam komunitas Bokor Kencana. Ketua Tim dari Sentra Terpadu “Prof. Dr. Soeharso” di Surakarta menjelaskan bahwa salah satu latar belakang dilaksanakannya kegiatan ini adalah karena masih adanya orang tua yang kurang kurang memahami cara penanganan anak mereka yang memiliki kebutuhan khusus secara tepat.
Edukasi mengenai dukungan biopsikososial orang tua menjadi poin utama dalam kegiatan ini. Disamping mengedukasi para orang tua untuk dapat terlibat langsung dalam melakukan terapi terhadap anak-anaknya.
Baca juga : Program Desa Tangguh Anti NAPZA: Strategi Pencegahan, Deteksi Dini, dan Rehabilitasi
Peran aktif Kementerian Sosial melalui sentra terpadu prof. Dr. Soeharso ini, diharapkan terjadi penguatan baik dari sisi psikologis maupun sosial ekonomi keluarga. Harapannya adalah agar orang tua mampu memberikan stimulasi yang optimal kepada anak-anak mereka sehingga potensi setiap anak dapat tergali secara maksimal.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sragen. Dalam pembukaannya, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial menyampaikan bahwa saat ini tercatat sebanyak 5.919 penyandang disabilitas di Kabupaten Sragen. Bagi para penyandang disabilitas, khususnya dalam usia anak, setidaknya ada sepuluh hak dasar yang harus dipenuhi.
Pemerintah Kabupaten Sragen sendiri terus berupaya melakukan upaya pemenuhan tersebut melalui berbagai program seperti pemenuhan kebutuhan dasar, pemberian alat bantu hingga bantuan usaha ekonomi produktif.
Namun Pemerintah daerah juga menyadari bahwa kemampuan daerah memiliki keterbatasan. Sehingga kolaborasi antara masyarakat, Lembaga Kesejahteraan Sosial, dan dunia usaha, termasuk dengan Pusat menjadi kunci utama.
Coaching Clinic Sentra Soeharso Dalam Memperkuat Kapasitas Keluarga
Selama tiga hari mengikuti kegiatan Soeharso Tangguh Inklusi, para orang tua mendapatkan pembekalan intensif. Mereka mendapatkan edukasi mengenai kebutuhan dasar hingga aspek teknis dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus.
Mulai dari mengenal konsep inklusi, berbagai jenis ke-disabilitas-an, dan perawatan kesehatan. Hal ini penting untuk mengubah sudut pandang para orang tua dengan anak berkebutuhan khusus dari rasa tidak berdaya menjadi kemandirian.
Pemahaman tentang inklusi membantu orang tua untuk menghapus stigma dan rasa minder. Sehingga mereka berani memperjuangkan hak sosial anaknya di masyarakat.
Pengetahuan mengenai jenis disabilitas dan perawatan kesehatan dasar memungkinkan orang tua dari anak berkebutuhan khusus menetapkan ekspektasi yang realistis serta memberikan stimulasi yang tepat.
Para orang tua juga diberikan edukasi mengenai pemenuhan gizi bagi anak, pola pengasuhan, dan bagaimana upaya meregulasi emosi, serta pengenalan dasar fisioterapi dan okupasi terapi. Pemenuhan gizi dan pola asuh yang tepat menjadi fondasi fisik dan mental agar anak siap menerima stimulasi.
Sementara kemampuan melakukan regulasi emosi dapat menjaga orang tua agar tetap tangguh dan terhindar dari burnout. Dengan menguasai dasar fisioterapi dan okupasi terapi, orang tua dapat melanjutkan latihan secara konsisten di rumah.
Dengan edukasi yang diberikan perkembangan anak akan menjadi lebih cepat dan berkelanjutan. Karena tidak hanya bergantung pada sesi terapi di klinik saja.
Selain itu para orang tua juga diajak untuk terus dapat memotivasi dan mendorong rasa percaya diri pada anak. Serta membangun kemampuan adaptasi dan bersosialisasi anak.
Memang idealnya lingkunganlah yang harus beradaptasi menjadi inklusif. Namun membangun motivasi dan rasa percaya diri pada anak adalah langkah strategis untuk membekali anak agar tetap memiliki “mental yang kuat”.
Sehingga anak mampu mengomunikasikan kebutuhannya serta menghadapi sisa-sisa stigma yang ada tanpa merasa rendah diri. Mengingat perubahan sosial memerlukan waktu lama.
Dengan mendorong kemandirian sosial ini, orang tua sebenarnya sedang mempersiapkan anak untuk menjadi subjek yang berdaya.
Seluruh rangkaian materi ini dipandu oleh tim dari Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso di Surakarta dengan berbagai latar belakang seperti fisioterapis, penyuluh sosial, pekerja sosial, dan perawat. Harapannya, ilmu yang didapat tidak hanya berhenti di pendopo Kelurahan Ngembatpadas saja, tetapi dibawa pulang untuk meningkatkan kualitas hidup anak secara nyata di rumah dan lingkungan masing-masing.
Komunitas Bokor Kencana, Rumah Hangat untuk Saling Menguatkan
Hadirnya komunitas seperti Bokor Kencana yang menjadi wadah bagi para orang tua dari anak berkebutuhan khusus menjadi pelengkap yang sangat indah dalam ekosistem inklusi di Sragen. Bokor Kencana menjadi sarana bagi orang tua dengan anak berkebutuhan khusus untuk berkumpul, berbagi cerita, dan saling menguatkan.
Di komunitas inilah, para orang tua tidak hanya sekadar belajar secara teori, tetapi juga mendapatkan dukungan moral dari sesama pejuang yang merasakan perjuangan serupa. Melalui berbagai kegiatan positif yang dilakukan secara rutin.
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN KAMU YANG TELAH MEMBACA TULISAN INI SAMPAI SINI.
Kami sangat senang bisa menyempatkan waktu di tengah kesibukan yang padat untuk membuat konten seperti ini. Jika kamu ingin menyampaikan masukan atau berbagi tulisan atas pengetahuan, pengalaman, serta informasi positif lainnya di website ariefrd.id, kamu bisa mengirimkan melalui email dibawah.
Dengan berbagi informasi, kita bisa saling belajar dan membantu lebih banyak orang untuk memahami berbagai hal. Semoga kita dapat bersama-sama membantu dalam membangun masyarakat yang lebih baik, dengan berbagi tulisan. Karena berbagi berarti berkehidupan!
Hadirnya komunitas seperti Bokor Kencana ini dapat membantu para orang tua agar tetap optimis dan terus konsisten memberikan stimulasi terbaik bagi pertumbuhan anak-anak mereka. Keberadaan komunitas semacam ini membuktikan bahwa inklusi bukan hanya soal kebijakan negara. Tetapi juga soal kerelaan hati masyarakat untuk saling bergandengan tangan.


