Perlukah keteguhan hati? Ada masa ketika hati terasa berada di ruang abu-abu: tidak benar-benar tenang, namun juga tidak sepenuhnya gelisah. Pikiran maju-mundur, keputusan terasa berat, dan langkah menjadi ragu.
Ingin melangkah takut salah, ingin berhenti pun tidak nyaman. Seakan-akan kita berdiri di persimpangan yang melelahkan, menatap jalan yang bercabang tanpa tahu harus memilih yang mana.
Kebimbangan adalah bagian dari perjalanan hidup. Ia sering muncul ketika kita terlalu banyak mendengar suara luar—pendapat orang lain, standar masyarakat, atau bisikan ketakutan—namun lupa mendengar suara iman yang sesungguhnya ada di dalam diri.

Padahal, ketenangan sejati bukan datang dari keramaian opini, melainkan dari keyakinan yang teguh kepada Allah SWT.
Langkah Bijak Saat Hati Ragu dan Pikiran Tak Menentu
Allah SWT., berfirman dalam surat ath-Thalaq ayat 3 yang artinya:
“Jika kamu bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkanmu.” (TQS. Ath-Thalaq: 3)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa sandaran terbaik bukanlah penilaian manusia, melainkan Allah yang Maha Mengetahui segala isi hati dan jalan hidup kita. Ketika kita menyerahkan keputusan kepada-Nya, hati yang tadinya bimbang akan menemukan arah.
Baca juga:
- Selalu Ada Jalan Keluar Yang Mengubah Perjuangan Menjadi Kemenangan
- Arti Penting Memperbaiki Diri Sendiri, Mengapa Penting?
Keteguhan hati lahir ketika sandaran kita jelas. Bukan pada pujian atau kritik manusia, melainkan pada Allah yang Maha Mengetahui.
Saat kita yakin bahwa setiap langkah ada dalam genggaman-Nya, rasa ragu perlahan berganti dengan keberanian.
Maka, ketika hati terasa bimbang dan ragu tak menentu, ingatlah! Jalan keluar bukan selalu tentang memilih dengan cepat dan logis, melainkan juga tentang memilih dengan penuh keimanan.
Doa Rasulullah SAW untuk Keteguhan Hati
Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa memohon keteguhan hati. Beliau SAW sering berdoa dengan penuh kerendahan, yang artinya:
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (THR. Tirmidzi)
Doa ini menjadi pengingat bahwa hati manusia memang mudah goyah. Ada kalanya ia teguh, namun di saat lain ia bisa rapuh.
Ketenangan sejati tidak lahir dari kekuatan diri semata, melainkan ketika Allah SWT yang meneguhkan hati kita.
Ketika hati sedang bimbang, jangan terburu-buru memaksa diri untuk segera menemukan semua jawaban. Tidak setiap keraguan harus diakhiri dengan keputusan cepat.
Kadang yang lebih dibutuhkan adalah menenangkan diri, meluruskan niat, dan mendekatkan hati kepada Allah.
- TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN KAMU YANG TELAH MEMBACA TULISAN INI SAMPAI SINI.
- Jika kamu ingin menyampaikan masukan atau berbagi tulisan atas pengetahuan, pengalaman, serta informasi positif lainnya di website ariefrd.id, kamu bisa mengirimkan melalui email dibawah.
- Semoga kita dapat bersama-sama membantu dalam membangun masyarakat yang lebih baik, dengan berbagi tulisan. Karena berbagi berarti berkehidupan!
- Mari kita ciptakan kehidupan yang inklusif dan ramah bagi semua. Dengan peduli dan berempati, kita bisa membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi semua orang.
Keyakinan sering kali tumbuh perlahan, seiring dengan doa dan kesabaran yang kita panjatkan.
Ragu bukanlah tanda kelemahan, melainkan kesempatan untuk lebih banyak berdoa. Biarkan kebimbangan menjadi jalan untuk semakin mendekat kepada Allah, bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Karena hati yang kembali bersandar kepada-Nya, meski sempat goyah, pada akhirnya akan menemukan arah yang menenangkan.
Dikembangkan dari WAG dengan pesan ‘Saat Hati Bimbang dan Ragu Tak Menentu‘ oleh Komunitas QM