Screen Time pada anak – Setiap kali generasi baru tumbuh dengan teknologi yang belum ada saat orang tua mereka kecil, narasi yang muncul cenderung sama, yaitu generasi ini “rusak” karenanya.
Dulu televisi dituduh membuat anak pasif. Sebelumnya lagi, komik dituduh merusak moral. Sekarang giliran layar sentuh dan media sosial yang dianggap sebagai sumber krisis.
Narasi semacam ini menarik karena sederhana. Tapi kenyataan yang ditemukan dalam berbagai penelitian jauh lebih berlapis.
Dan penting untuk jujur sejak awal, bukti yang ada memang menunjukkan bahwa persoalan ini kompleks dan tidak tepat digeneralisasi begitu saja—tapi itu belum sama dengan membuktikan “tidak ada krisis sama sekali”.
Yang bisa dikatakan dengan cukup yakin adalah menyederhanakan semua ini menjadi satu narasi krisis tunggal kemungkinan besar keliru, bukan bahwa kekhawatirannya sepenuhnya tidak berdasar.
Yang Benar-Benar Ditemukan Penelitian
Buktinya tidak seragam, dan levelnya juga berbeda-beda tergantung usia. Pada anak usia dini (di bawah 5 tahun), kaitan dengan dampak negatif relatif lebih konsisten.
Tinjauan literatur oleh Świder-Cios, Vermeij, dan Sitskoorn (2023) di jurnal Cognitive Development menyimpulkan bahwa untuk anak 0–2 tahun, penggunaan layar sebaiknya dihindari, kecuali untuk video call dengan keluarga. Sementara untuk usia 2–5 tahun dampaknya lebih bergantung konteks—tidak semuanya buruk.
Studi cross-sectional di Kerala, India, oleh John dkk. (2021) di BMC Pediatrics menemukan anak prasekolah dengan pengawasan screen time yang tidak konsisten punya risiko lebih tinggi mengalami hambatan atensi dan kemampuan sosial menurut laporan orang tua.
Studi lain di tiga tempat penitipan anak Sidoarjo (n=42) juga menemukan hubungan bermakna antara screen time tinggi dan perkembangan sosial-emosional yang kurang sesuai (p=0,047).
Pada anak usia sekolah dasar, gambarannya mulai lebih beragam. Studi pada 149 siswa SD di Semarang menemukan hubungan berlawanan arah antara durasi screen time dengan konsentrasi dan kemampuan membaca pemahaman—tapi ini studi korelasional skala kecil di satu wilayah, bukan bukti sebab-akibat.
Pada remaja, justru di sinilah kompleksitasnya paling terasa. Sebuah penelitian cross-sectional pada 118 siswa SMA (kelas X dan XI) di MAN Insan Cendekia Gowa, dipublikasikan tahun 2026 di Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, menemukan tidak ada hubungan signifikan antara screen time dengan rentang atensi (p=0,091) maupun memori kerja (p=0,925). Yang justru berkorelasi dengan atensi adalah memori kerja itu sendiri (p=0,039), terlepas dari screen time.

Temuan ini membuka kemungkinan bahwa pendekatan terhadap konsentrasi tidak cukup hanya dengan membatasi jam layar, tetapi juga perlu mempertimbangkan bagaimana keterampilan fokus itu sendiri dikembangkan.
Sementara itu, temuan yang lebih konsisten justru terlihat di ranah tidur, bukan kognisi langsung—dan spesifiknya berkaitan dengan waktu penggunaan, bukan sekadar total durasi.
Studi Perrault dkk. (2019) di jurnal Sleep pada remaja usia 12–19 tahun menggunakan fase intervensi, ketika peserta diminta menghentikan penggunaan perangkat layar setelah pukul 9 malam, pada malam sekolah. Dalam fase tersebut, pengurangan penggunaan layar setelah pukul 9 malam dikaitkan dengan waktu tidur yang lebih awal, durasi tidur yang lebih panjang, dan kewaspadaan yang lebih baik pada siang hari.
Di Indonesia, studi pada 183 siswa SMK di Sumedang menemukan hubungan bermakna antara durasi screen time dan kejadian insomnia (p=0,036).
Perlu dicatat, satu studi yang sering dirujuk soal kaitan kecanduan media sosial dengan insomnia—oleh Hjetland dkk. (2021) di Frontiers in Public Health—sebenarnya dilakukan pada mahasiswa universitas di Norwegia, bukan remaja usia sekolah, sehingga generalisasinya ke kelompok usia lain perlu hati-hati.
Dengan kata lain, screen time bukan variabel tunggal yang menjelaskan semuanya.
Konteks—jam berapa layar digunakan, jenis konten, ada atau tidaknya pendampingan, usia anak, dan apa yang digantikan oleh waktu layar (tidur?, interaksi sosial?, atau bermain fisik?)—tampaknya jauh lebih menentukan daripada angka jam per hari yang sering dijadikan patokan tunggal di media populer.
Screen Time Pada Anak dalam Konteks Indonesia
Ini bukan persoalan abstrak untuk keluarga Indonesia. Menurut Survei Penetrasi Internet APJII 2025, penetrasi internet Indonesia terus meningkat. Data APJII menunjukkan penetrasi internet sebesar 64,8% pada 2018, 73,7% pada 2020, 77,01% pada 2022, dan 78,19% pada 2023.
Dalam survei 2025, Gen Z merupakan salah satu kelompok generasi dengan kontribusi pengguna internet terbesar. Ssementara tingkat penetrasi internet pada kelompok ini juga tinggi.
Namun, angka penetrasi internet tidak dapat disamakan dengan ukuran screen time. Apalagi digunakan untuk menyimpulkan dampak kognitif atau kesehatan mental. Keduanya mengukur hal yang berbeda.
APJII sendiri merupakan sumber data mengenai akses dan perilaku penggunaan internet. Bukan penelitian mengenai perkembangan kognitif anak dan remaja.
Karena itu, tingginya konektivitas digital di Indonesia lebih tepat dibaca sebagai konteks lingkungan tempat generasi muda tumbuh. Bukan sebagai bukti bahwa mereka mengalami krisis akibat layar.
Yang lebih penting adalah bagaimana perangkat tersebut digunakan.
Sejumlah studi lokal yang dirujuk di atas—dari Sidoarjo, Semarang, sampai Sumedang—menunjukkan pentingnya memperhatikan pola penggunaan, durasi, konteks, dan pendampingan. Bukan sekadar menerapkan larangan terhadap gawai.
Kenapa Narasi “Krisis” Tetap Bertahan?
Kalau buktinya sebercampur itu, kenapa narasi krisis (tumbuh bersama layar atau screen time) tetap begitu dominan?
Sebagian karena kekhawatiran orang tua terhadap sesuatu yang tidak mereka alami sendiri saat kecil memang wajar dan manusiawi. Sebagian lagi karena narasi krisis lebih mudah dijual sebagai berita ketimbang narasi “tergantung konteks, dan buktinya masih berkembang”.
Dan sebagian karena memang ada bukti pada kelompok usia tertentu. Khususnya anak sangat kecil, yang mendukung kekhawatiran tersebut—hanya saja temuan itu sering digeneralisasi ke semua kelompok usia dan semua jenis penggunaan layar.
Padahal riset pada remaja SMA di atas menunjukkan pola yang jauh lebih rumit.
Ada satu hal lagi yang sering diabaikan dalam narasi krisis. Meski ini lebih merupakan pertanyaan terbuka daripada fakta yang sudah mapan, apakah generasi yang tumbuh dengan layar juga sedang mengembangkan kemampuan-kemampuan baru?—seperti menyaring informasi lebih cepat, atau belajar mandiri lewat video dan komunitas daring—yang belum memiliki kerangka pengukuran yang setara dengan riset tentang dampak negatifnya?
Ini bukan klaim yang memiliki dasar bukti sekuat temuan-temuan di atas. Karena itu, pertanyaan tersebut lebih tepat diajukan sebagai bahan penelitian lanjutan, bukan disampaikan sebagai kesimpulan.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua dan Pendidik?
Dari pola yang muncul dalam berbagai penelitian di atas, ada beberapa hal yang layak mendapat perhatian lebih dibanding sekadar menghitung total jam layar.
Pertama, perhatikan waktu penggunaan, terutama pada malam hari
Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara penggunaan layar pada malam hari dan gangguan tidur. Karena itu, mengurangi penggunaan perangkat menjelang tidur dapat menjadi salah satu langkah yang masuk akal, khususnya bagi anak dan remaja.
Kedua, pendampingan orang tua tetap penting
Terutama pada anak usia dini, orang tua dapat membantu dengan memperhatikan jenis konten, mendiskusikan apa yang ditonton, serta mengatur waktu dan situasi penggunaan perangkat.
Ketiga, melatih fokus secara langsung mungkin sama pentingnya dengan membatasi layar
Temuan dari studi Gowa bahwa atensi berkorelasi dengan memori kerja—terlepas dari screen time—menunjukkan bahwa kemampuan konsentrasi juga perlu dipandang sebagai keterampilan yang dapat dikembangkan.
Keempat, lihat konteks penggunaannya
Menonton video edukatif bersama orang tua berbeda dari scrolling tanpa arah sendirian. Meskipun keduanya sama-sama tercatat sebagai “screen time” dalam banyak survei.
Baca Juga :
Klaim ‘Krisis’ Belum Cukup Kuat, Tapi Perlu Diwaspadai
Generasi yang tumbuh dengan layar bukan otomatis sedang mengalami kerusakan yang belum pernah terjadi pada generasi mana pun—bukti untuk klaim itu belum cukup kuat, terutama untuk remaja.
Tapi bukan berarti juga tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali, terutama pada anak usia dini dan soal waktu tidur.
Yang lebih akurat, mereka sedang beradaptasi dengan lingkungan yang belum sepenuhnya kita pahami cara kerjanya—termasuk oleh para peneliti sendiri. Dimana temuan mereka masih beragam dan terus berkembang antar kelompok usia.
Ketimbang bertanya “seberapa rusak generasi ini”, pertanyaan yang lebih berguna mungkin, bagian mana dari penggunaan layar yang perlu didampingi lebih ketat. Terutama pada usia dini dan menjelang waktu tidur, dan bagian mana yang buktinya belum cukup kuat untuk dijadikan alarm umum?
Mungkin tantangannya bukan memilih antara “layar itu buruk” atau “layar itu baik”. Tantangannya adalah belajar memahami kapan, untuk siapa, untuk apa, dan bagaimana layar digunakan.
Terima kasih telah membaca tulisan ini. Silakan berbagi informasi dan pengetahuan melalui email dibawah atau dikolom komentar. Semoga kita dapat membangun masyarakat yang lebih baik.
