“Ketika kemanusiaan tidak hanya dirayakan, tetapi diberi ruang“
Senin, 31 Agustus 2026, saya berkesempatan menikmati suasana perayaan 75 tahun Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta. Sejak memasuki Gedung Serba Guna, suasana perayaan sudah terasa. Alunan gamelan menyambut, karpet merah terbentang, sementara layar proyektor menampilkan pesan “Hak Dasar PPKS – Soeharso for Humanity.”
Perayaan itu sekaligus menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dua momentum yang berbeda, tetapi terasa memiliki benang merah: tentang perjalanan, pengabdian, dan bagaimana memberi ruang bagi setiap orang untuk tumbuh dan menjalani kehidupan dengan lebih bermartabat.

Saya menikmati suasananya bukan hanya karena acaranya meriah. Ada sesuatu yang lebih menarik untuk diperhatikan.
Ketika Tradisi Menjadi Bagian dari Perayaan
Gamelan menjadi salah satu hal yang langsung menarik perhatian saya. Di tengah suasana perayaan lembaga yang bergerak dalam rehabilitasi sosial, kesenian tradisional Jawa hadir sebagai bagian dari pembuka acara.
Perpaduan antara suasana formal, teknologi layar proyektor, dan gamelan membuat perayaan terasa akrab. Tradisi tidak ditempatkan sebagai sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian dari suasana yang menghidupkan acara.
Dari sini saya mulai melihat bahwa perayaan 75 tahun Soeharso bukan hanya tentang seremoni. Ada perjalanan panjang yang sedang dirayakan.
Tiga Generasi Kepemimpinan dan Sebuah Harapan
Salah satu momen yang menarik perhatian saya adalah hadirnya tiga mantan pimpinan Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso, yaitu Pak Samsudi, Pak Samsuhadi, dan Pak Bambang Sugeng.
Mereka hadir membawa cerita dari masa yang berbeda. Dengan nomenklatur kelembagaan yang pernah berubah dalam perjalanan waktu, ketiganya berbagi cerita tentang perkembangan Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso dari masa ke masa.
Mendengarkan cerita tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa usia 75 tahun bukan sekadar angka. Ada perjalanan panjang di belakangnya. Ada perubahan kelembagaan, pergantian kepemimpinan, pengalaman, serta orang-orang yang pernah memberikan tenaga dan pikirannya untuk membangun lembaga ini.
Yang menarik, cerita tentang masa lalu itu kemudian dipertemukan dengan harapan untuk masa depan. Ketiga mantan pimpinan tersebut ikut dalam sebuah momen simbolis dengan menuliskan harapan untuk Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso ketika kelak mencapai usia 100 tahun.
Bagi saya, momen itu terasa cukup kuat. Masa lalu hadir melalui cerita para mantan pimpinan. Masa kini terlihat dalam perayaan dan berbagai karya yang ditampilkan. Sementara masa depan dititipkan melalui harapan menuju usia satu abad.
Seolah-olah perjalanan 75 tahun tidak sedang ditutup, tetapi justru sedang membuka babak berikutnya.
Dari Panggung ke Ruang Karya
Setelah menikmati suasana di dalam gedung, perhatian saya kemudian tertuju pada aktivitas di luar.
Ada bazar dengan berbagai karya dan produk yang dihasilkan melalui aktivitas pemberdayaan. Salah satunya adalah Sentra Kreasi ATENSI (SKA) eRCe Manahan.
Ada pula CASKA—Cemilan Asik SKA—yang menawarkan berbagai makanan ringan dan produk olahan, termasuk produk dari PPKS di Surakarta dan Rusunawa Manahan. Di sisi lain ada eRCe Coffee, dengan pilihan kopi dan minuman nonkopi.

Kemudian mata saya tertuju pada karya-karya visual. Ada lukisan dan Batik Ciprat yang dipajang dan diperkenalkan kepada pengunjung.
Di sinilah saya merasa kata inklusi menjadi lebih mudah dipahami.
Inklusi tidak selalu harus dijelaskan melalui istilah yang rumit. Ketika seseorang diberi kesempatan untuk berkarya, kemudian karyanya dipajang, diperkenalkan, bahkan memiliki peluang untuk dibeli dan diapresiasi, di situlah saya bisa melihat bentuk nyata dari sebuah ruang partisipasi.
Bukan Sekadar Produk
Saya melihat batik, makanan, kopi, lukisan, dan berbagai produk lainnya bukan semata-mata sebagai barang yang dijual.
Di baliknya ada proses!
Ada orang yang belajar. Ada yang berlatih. Ada yang menghasilkan karya. Ada pula kesempatan untuk menunjukkan bahwa PPKS bukan hanya penerima layanan, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam sebuah kegiatan, menghasilkan sesuatu, dan berkontribusi.
Tentu, satu kegiatan perayaan tidak bisa dijadikan ukuran bahwa seluruh hak dasar PPKS telah terpenuhi. Saya kira kesimpulan sebesar itu terlalu jauh.
Namun, setidaknya dari apa yang saya lihat hari itu, ada sebuah upaya untuk menghadirkan ruang tersebut. Seperti Membangun Pola Pikir dan Kecerdasan Sosial Emosional dengan Konseling Kelompok
- Ruang untuk berkarya,
- Ruang untuk tampil,
- Ruang untuk berinteraksi, dan
- Ruang untuk dihargai.
Kemanusiaan yang Dikerjakan Bersama
Hal lain yang juga menarik adalah pemberian apresiasi kepada sejumlah mitra yang selama ini turut mendukung kinerja Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso. Penghargaan diberikan kepada mitra dari berbagai unsur, termasuk unsur pemerintah seperti Dinas Sosial dan lembaga atau Balai vokasional, serta mitra dari masyarakat.
Saya melihatnya sebagai pengingat bahwa kerja-kerja rehabilitasi sosial tidak mungkin berdiri sendiri.
Ada jejaring yang dibangun. Ada kerja sama yang dilakukan. Ada pihak-pihak lain yang ikut memberikan dukungan agar pelayanan dan pemberdayaan dapat berjalan. Karena itu, ketika tema Soeharso for Humanity digaungkan, saya menangkapnya bukan hanya sebagai slogan perayaan ulang tahun.
Ada pesan bahwa kemanusiaan memang membutuhkan kerja bersama.
75 Tahun dan Perjalanan yang Belum Selesai
Tujuh puluh lima tahun adalah usia yang panjang bagi sebuah lembaga.
Perjalanan Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso telah melewati berbagai zaman dan perubahan. Dari cerita para mantan pimpinan, karya PPKS yang saya lihat, keterlibatan pegawai, hingga apresiasi kepada para mitra, saya melihat sebuah benang merah: perjalanan sebuah lembaga selalu dibangun oleh banyak orang.
Karena itu, bagi saya, perayaan ulang tahun kali ini bukan hanya tentang melihat ke belakang.
Ada pertanyaan tentang bagaimana perjalanan itu akan diteruskan.
Harapan menuju usia 100 tahun yang ditulis secara simbolis oleh para mantan pimpinan terasa seperti pengingat bahwa setiap generasi memiliki bagian dalam perjalanan tersebut.
Yang telah dilakukan menjadi pijakan, yang sedang dikerjakan menjadi tanggung jawab, dan dan yang akan datang menjadi harapan.
Menikmati Sebuah Perayaan
Saya datang untuk menikmati sebuah perayaan ulang tahun. Tetapi saat kembali saya membawa cara pandang yang sedikit berbeda.
Saya menemukan bahwa sebuah perayaan bisa menjadi ruang untuk mengenang perjalanan, menghargai orang-orang yang pernah terlibat, mempertemukan generasi, memberikan apresiasi kepada mitra, sekaligus menunjukkan karya-karya yang lahir dari proses rehabilitasi dan pemberdayaan.
Di antara gamelan, panggung, batik, lukisan, makanan, dan secangkir kopi, saya melihat sebuah pesan sederhana: kemanusiaan akan terasa lebih bermakna ketika tidak hanya dibicarakan, tetapi diberi ruang untuk tumbuh.
Dan mungkin itulah yang membuat perayaan 75 tahun Soeharso terasa berbeda bagi saya.
Bukan semata karena usianya yang panjang.
Bukan pula karena kemeriahannya.
Tetapi karena di dalam sebuah perayaan ulang tahun, saya bisa melihat masa lalu, masa kini, dan masa depan duduk dalam satu ruang.
Kemanusiaan, ternyata, tidak selalu perlu diucapkan besar-besar. Kadang ia cukup diseduh, dipakai, dan dipajang—lalu dibiarkan berbicara sendiri.
