Terapetic Community – November 2025 menjadi momen yang sangat berharga bagi saya. Selama sepekan, saya ditugaskan Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso di Surakarta untuk mengikuti On Job Training (OJT) tentang Therapeutic Community bagi Korban Penyalahgunaan Napza di Sentra Insyaf Medan.
Kesempatan ini bukan sekadar pelatihan biasa bagi saya pribadi. Kegiatan ini benar-benar membuka mata saya tentang bagaimana proses rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan NAPZA dijalankan secara nyata di tempat rehabilitasi sosial.

Saya Bukan Residen, Tapi Ikut Menjalani Proses
Perlu saya tekankan, saya bukan seorang yang memiliki masalah kecanduan NAPZA. Namun dalam OJT ini, saya harus turut mengikuti jalannya proses rehabilitasi sosial melalui kegatan therapeutic community yang dilalui oleh para korban penyalahgunaan NAPZA yang ingin pulih.
Mengapa? Karena saya merasa juga punya “masalah” dengan NAPZA, yaitu tanggung jawab moral dan profesional untuk membantu mereka yang ingin dan sedang berjuang menjalani rehabilitasi sosial. Dengan ikut merasakan langsung dinamika komunitas, saya bisa memahami lebih dalam apa yang mereka hadapi.
Baca juga: Merangkul Korban Penyalahgunaan Narkoba Berperilaku Positif
Hari-Hari Pertama: Menyatu dengan Lingkungan Baru
Saat pertama tiba di Sentra Insyaf, saya disambut hangat oleh tim Pokja KPN. Berhubung saat itu adalah hari Senin, dan setiap Senin pagi dilaksanakan Apel Akbar, maka saya dan beberapa teman diminta mengenalkan diri dengan Warga Sentra Insyaf Medan.
Ada rasa canggung sekaligus antusias. Lingkungan baru, orang-orang baru, dan tentu saja pengalaman yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Namun sambutan hangat itu membuat saya cepat merasa diterima.
Belajar dari Seminar dan Diskusi
Hari-hari awal langsung diisi dengan seminar atau pembelajaran mengenai “Rules of the House” atau aturan bagaimana bersikap dalam rumah rehabilitasi (Primary House), termasuk mengenai adiksi, SOP rehabilitasi, dan tahapan pemulihan.
Dari sini saya mulai memahami bahwa rehabilitasi sosial bukan sekadar berfokus pada menghilangkan ketergantungan. Tetapi lebih menekankan pada membangun kembali kepercayaan diri, disiplin, dan tanggung jawab sosial.
Diskusi bersama narasumber yang menjadi konselor adiksi membuat saya semakin yakin bahwa pendekatan Terapeutik Komunitas adalah metode yang efektif.
Observasi di Primary House
Bagian yang tidak kalah berkesan bagi saya adalah ketika ikut terlibat langsung dalam kegiatan di Primary House. Dimana kami harus duduk setara dengan residen. Menanggalkan segenap identitas jabatan dalam pekerjaan, usia, maupun ‘keuntungan’ lainnya yang hanya dimiliki oleh pegawai atau pengunjung pada umumnya.

Di Primary House saya bisa mendengarkan cerita mereka, keluhan mereka, termasuk memperhatikan sikap dan tingkahlaku konyol dan ‘janggal’ yang ada pada para residen. Saya pun harus rutin mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan seperti diskusi kelompok, bahkan ikut dalam aktivitas harian, termasuk menjalani hukuman yang diberikan oleh residen lainnya yang sedang menjalani tugasnya.
Dari interaksi itu, saya belajar bahwa setiap residen punya kisah perjuangan yang unik. Saya merasakan bagaimana komunitas menjadi tempat mereka saling mendukung, saling mengingatkan, dan bersama-sama berusaha pulih.
Refleksi Harian
Setiap malam, kami (saya dan rekan yang menjalani OJT dengan para residen) melakukan evaluasi harian dengan dipandu oleh seorang yang disebut Conduct (biasanya oleh seorang konselor adiksi).
Di sinilah saya menyadari betapa pentingnya refleksi bagi para residen. Dengan menuliskan atau berbagi pengalaman, perasaan, dan pelajaran yang didapatkan pada hari itu. Proses ini membuat saya lebih peka, lebih empati, dan lebih memahami tantangan yang dihadapi para korban penyalahgunaan NAPZA.
Pelajaran Berharga
Dari OJT ini, saya mendapatkan beberapa hal penting bahwa Terapeutik Komunitas bukan hanya metode, tetapi sebuah budaya hidup bersama yang penuh disiplin dan dukungan. Empati adalah kunci dalam mendampingi residen. Mendengar dan memperhatikan dengan hati, bukan sekadar memberi nasihat.
Hal yang bisa saya petik lainnya adalah rehabilitasi, termasuk rehabilitasi sosial merupakan perjalanan Panjang bagi setiap korban penyalahgunaan Napza untuk Kembali pulih. Untuk itu setiap langkah kecil mereka menuju perubahan patut diapresiasi.
Ikut merasakan proses rehabilitasi sosial bagi korban penyalahgunaan Napza, meski bukan residen membuat saya lebih memahami betapa berat perjuangan mereka (untuk bisa pulih). Sekaligus memperkuat komitmen untuk bisa terus berkontribusi dan membantu. Termasuk melalui cerita dalam tulisan ini.
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini! Semoga informasi singkat ini bermanfaat! Jika kamu ingin berbagi pengetahuan atau pengalaman, silakan kirimkan tulisan kamu ke alamat email dibawah atau berbagi di kolom komentar. Saya berharap semua aktivitas yang kita jalankan saat ini berjalan dengan baik dan semoga kita dapat membangun masyarakat yang lebih baik.
Upaya rehabilitasi sosial korban penyalahgunaan NAPZA yang dilakukan oleh Sentra Insyaf di Medan termasuk kegiatan pemulihan dan dukungan psikososial bagi korban penyalahgunaan napza menjadi bukti komitmen pemerintah agar tidak ada warga negara yang tertinggal dalam membentuk generasi yang berkualitas dan berdaya saing tinggi pada tahun 2045.
Bagaimana tanggapan kamu?