Surakarta – Ruang pelayanan itu mulai ramai dikunjungi klien Bapas Kelas I Surakarta ketika saya sampai. Kursi-kursi tampak tertata rapi, beberapa staf sibuk memeriksa daftar nama dan susunan kegiatan, dengan sejumlah paket bantuan tersusun di salah satu ruangan. Satu per satu klien pemasyarakatan mulai mengisi tempat duduk yang sudah disediakan sambil mengobrol pelan dengan orang di sebelahnya, sebagian lain memilih diam sambil menatap ke depan.

Selasa itu, 8 September 2026, saya berada di Bapas Kelas I Surakarta sebagai bagian dari tim Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta yang ikut menyalurkan bantuan ATENSI untuk pemenuhan kebutuhan hidup layak. Hari itu, 43 klien pemasyarakatan dari klaster NAPZA menjadi penerima manfaat kegiatan ini.

Pengalaman lain bersama Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso

Apa yang Sedang Berlangsung

Bagi yang belum familiar, ATENSI adalah salah satu bentuk dukungan sosial yang disalurkan Kementerian Sosial, salah satunya melalui Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso di Surakarta kepada penerima manfaat yang telah melalui proses seleksi dan verifikasi data.

Untuk kegiatan hari itu, bantuan diberikan kepada mereka yang telah dinyatakan lolos verifikasi berdasarkan kategori desil 1–5, sesuai kriteria yang digunakan dalam penetapan penerima bantuan. Artinya, bukan setiap orang di kategori tersebut otomatis menerima bantuan — ada tahap pemeriksaan data yang lebih dulu dilalui sebelum nama-nama itu ditetapkan sebagai penerima.

bantuan ATENSI di Bapas Surakarta
Penyerahan simbolis bantuan ATENSI kepada salah satu Klien Bapas Kelas I Surakarta. Dukungan ini menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan hidup layak bagi penerima manfaat.

Bentuk bantuannya yang disalurkan kali ini sederhana secara konsep, pemenuhan kebutuhan hidup layak. Sesuatu yang mungkin terdengar teknis dalam laporan kegiatan, tetapi dalam praktiknya berarti membantu seseorang memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari — sesuatu yang sering kali luput dari perhatian ketika kita bicara tentang pemulihan.

Bapas Kelas I Surakarta dan Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso Surakarta bekerja sama dalam kegiatan ini. Bapas memiliki peran dalam pembimbingan dan reintegrasi klien pemasyarakatan di tengah masyarakat, sementara Sentra hadir dalam kerangka rehabilitasi sosial dan dukungan sesuai mandat layanan ATENSI. Dua peran yang berbeda, tetapi dalam kegiatan ini bertemu pada kebutuhan yang sama: memberikan dukungan agar klien dapat menjalani proses kehidupan di tengah masyarakat.

Kegiatan yang Singkat, Maknanya Tidak

Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala Bapas Kelas I Surakarta, dilanjutkan dengan penyerahan bantuan secara simbolis kepada salah satu penerima manfaat. Setelah itu, barulah bantuan diberikan kepada masing-masing penerima yang telah lolos seleksi.

Saya tidak ingin berlama-lama di bagian prosesi ini, karena bagi saya, bagian yang lebih penting justru terjadi setelahnya — pada momen-momen kecil ketika satu per satu penerima maju, menerima bantuan, lalu bantuan tersebut bisa langsung dibawa pulang.

Yang Saya Lihat

Saya melihat beberapa penerima datang dengan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang tersenyum tipis sambil mengucapkan terima kasih, ada yang menerima paketnya dengan tenang tanpa banyak kata, ada pula yang tampak buru-buru ingin segera menyudahi urusannya hari itu.

Dari situ saya kembali diingatkan bahwa satu paket bantuan bisa memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Saya tidak tahu persis apa yang ada di pikiran masing-masing dari mereka, dan saya kira memang tidak seharusnya saya menyimpulkannya begitu saja.

Yang bisa saya pastikan hanyalah mereka hadir, mereka menerima, dan proses itu berjalan tertib dari awal hingga akhir. Selebihnya adalah wilayah yang hanya diketahui oleh masing-masing penerima.

Makna yang Lebih Besar dari Sekadar Paket

Ketika saya memperhatikan proses penyaluran itu berlangsung, saya mulai berpikir bahwa yang sedang terjadi bukan sekadar pembagian bantuan. Ada sesuatu yang lebih besar sedang berlangsung di baliknya, yaitu sebuah pengakuan bahwa pemulihan seseorang dari NAPZA bukan hanya soal berhenti menggunakan zat tertentu.

bantuan ATENSI di Bapas Surakarta
Paket bantuan ATENSI pemenuhan kebutuhan hidup layak bagi Klien Pemasyarakatan klaster NAPZA di Bapas Kelas I Surakarta.

Ada kehidupan sehari-hari yang tetap harus dijalani. Ada kebutuhan dasar yang tetap harus dipenuhi. Ada kondisi ekonomi yang ikut menentukan apakah seseorang bisa fokus menata ulang hidupnya atau justru kembali terjepit oleh persoalan yang sama.

Pemenuhan kebutuhan dasar, dalam konteks ini, dapat menjadi salah satu bagian dari dukungan yang membantu penerima manfaat menghadapi kondisi sosial-ekonomi selama proses pemulihan berlangsung.

Penyaluran bantuan ATENSI bagi penerima manfaat pascarehabilitasi NAPZA

Tentang Stigma dan Kesempatan Kedua

Saya kemudian berpikir, jangan-jangan stigma membuat sebagian orang yang sedang berusaha pulih merasa dirinya tidak lagi layak mendapat kesempatan. Memang saya tidak bisa memastikan apakah pikiran itu benar-benar ada di kepala setiap penerima yang saya lihat hari itu. Tetapi sebagai seseorang yang bekerja di ranah ini, saya rasa wajar bila pertanyaan itu terus muncul setiap kali saya berada dalam kegiatan semacam ini.

Persoalan stigma dalam isu NAPZA

Bagi saya, justru di situlah makna lain dari kegiatan seperti ini muncul. Seseorang tetap membutuhkan dukungan bukan karena masa lalunya diabaikan, melainkan karena proses untuk kembali menjalani kehidupan di masyarakat memang tidak selalu sederhana.

Bisa jadi juga ada yang merasa biasa saja. Saya tidak berada di posisi untuk menggeneralisasi perasaan 43 orang hanya dari apa yang saya amati sekilas.

ATENSI Bukan Akhir Perjalanan

Saya ingin berhati-hati di bagian ini. Bantuan ATENSI, dalam bentuk pemenuhan kebutuhan hidup layak, bukanlah solusi tunggal atas persoalan pemulihan dari NAPZA. Tidak ada cukup dasar bagi saya untuk mengatakan bahwa bantuan ini akan mencegah seseorang kembali menggunakan NAPZA, atau bahwa bantuan ini menjamin keberhasilan pemulihan.

Klaim semacam itu terlalu besar untuk ditopang oleh satu kegiatan penyaluran bantuan di satu hari. Yang lebih tepat untuk dikatakan adalah bahwa bantuan ini merupakan salah satu bentuk dukungan dalam perjalanan yang jauh lebih panjang.

Kebutuhan penerima manfaat, saya kira, jauh lebih luas daripada yang bisa dijawab oleh satu kali penyaluran. Karena itu, penting untuk melihat kesinambungan pendampingan — bagaimana Bapas terus membimbing kliennya dalam proses reintegrasinya, sebagaimana Sentra dan pihak-pihak lain tetap terlibat setelah hari penyaluran ini selesai.

Satu intervensi dapat membantu. Tetapi perjalanan pemulihan, sejauh yang saya pahami dari pekerjaan ini, membutuhkan dukungan yang lebih panjang dan berlapis.

Kembali ke Ruang Itu

Menjelang kegiatan berakhir, ruang pelayanan itu kembali sepi seperti semula. Paket-paket bantuan sudah berpindah tangan, berita acara penyerahan bantuan sudah ditandatangani penerima, kursi-kursi mulai kosong satu per satu, dan yang tersisa hanya catatan administrasi yang masih harus dirapikan.

Saya keluar dari ruangan itu dengan satu pertanyaan yang terus saya bawa, apa yang sebenarnya dibutuhkan seseorang untuk benar-benar merasa punya tempat kembali di masyarakat?

Saya tidak punya jawaban tunggal untuk itu. Tetapi saya percaya, ‘kesempatan kedua’ tidak datang dari satu momen simbolis semata. ‘Kesempatan kedua’ akan selalu terbangun dari rangkaian dukungan kecil yang terus-menerus hadir. Salah satunya adalah memastikan bahwa kebutuhan hidup sehari-hari seseorang tetap terpenuhi, sembari ia berusaha menemukan kembali tempatnya di tengah masyarakat.

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Silakan berbagi informasi dan pengetahuan melalui email dibawah atau dikolom komentar. Semoga kita dapat membangun masyarakat yang lebih baik. Berbagi berarti berkehidupan!

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Ariefrd.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca