Praktik Pertolongan Pekerjaan Sosial, 3 Hal Sering Terlupa

Praktik Pertolongan Pekerjaan Sosial

 

Setiap praktik pekerjaan sosial harus tetap mengacu pada tahapan pertolongan pekerjaan sosial. Hal ini penting  dalam praktik pekerjaan sosial.

 

Tanpa mengacu tahapan pertolongan pekerjaan sosial, seorang pekerja sosial akan bingung dengan apa yang seharusnya dilakukann pada saat memberikan layanan dalam praktik pekerjaan sosial atau penanganan kasus.

 

Berikut merupakan tahap pertolongan pekerjaan sosial :

  1. Proses Awal
  2. Asesmen
  3. Analisa Masalah
  4. Rencana Intervensi dan intervensi
  5. Tahap Lanjut dan Terminasi

 

pekerja sosial sebagai profesional

Ilustrasi Tahap Pertolongan Pekerjaan Sosial

 

Proses Awal

Disini seorang pekerja sosial melakukan intake dengan seseorang atau kelompok yang akan menerima pelayanan pekerjaan sosial.

 

Sederhananya, pekerja sosial harus terlebih dahulu mengetahui duduk cerita sesuatu dianggap masalah. Bagian sulitnya adalah dalam berbagai cerita atau informasi yang disampaikan seseorang, bisa saja ngalor-ngidul, tersamar, dan seolah semua cerita adalah full masalah.

 

Calon pemerlu layanan akan bercerita mulai kambing, kerbau, beralih ke kupu-kupu, ulat, daun, bunga matahari, air hujan, batu, belok lagi ke jerapah, gajah, sungai, ikan, bunga teratai, genjer, kangkung, sawah, padi dan bisa berujung di sinar matahari.

 

Untuk selanjutnya, pekerja sosial perlu membuat kontrak layanan. Perlu kecermatan dalam membuat kontrak layanan. Sayangnya hal ini kerap  terabaikan. Atau kalau pun dibuat kontraknya, terkadang lupa memberikan batasan layanan.

 

Misalnya dari A-ZZ (kambing-sinar matahari) cerita full masalah tadi, mana yang akan dituangkan dalam kontrak layanan. Apakah A-C (kambing-kupu-kupu) saja, atau A-C dan X-Y (kambing – kupu-kupu dan kangkung – sinar matahari) saja. Atau memang semua mampu dilayani pekerja sosial.

 

Intinya adalah pekerja sosial atau tim harus mampu mengukur kemampuan dan kapasitasnya dulu !

 

Asesmen

Langkah berikutnya adalah menyatukan puzzle cerita pada saat intake. Bisa saja menggali dari orang terdekat atau lingkungan sekitar.

 

Sehingga cerita full masalah tadi bisa terurai menjadi bagian-bagian pokok. Misalnya mana yang hewan, mana yang bunga, dan mana yang diluar keduanya. Baru dipilah lagi mana yang hewan liar, mana yang serangga dan begitu seterusnya.

 

Analisa Masalah

Nah kalau sudah diketahui pokok-pokoknya. Baru deh dianalisis situasi masalahnya. Kalau tidak dilakukan analisis, pekerja sosial akan mengalami kebingungan dan tidak fokus (ikut terbawa arus si pemerlu layanan).

 

Kalau sudag dianalisis, akan bisa diketahui apakah kelompok hewan liar, hewan ternak, hewan serangga, tanaman bunga, tanaman air, atau yang lain yang memang perlu mendapatkan perhatian serius.

 

Sehingga kelak dapat menghilangkan disfungsi dari si pemerlu layanan tadi. Semakin baik analisis yang dilakukan, semakin mempermudah menyusun langkah-langkah berikutnya.

 

Pada tahap ini, atau pada tahap manapun seorang pekerja sosial juga dapat memperbarui (menambah atau mengurangi klausul dalam) kontrak layanan yang akan diberikannya.

 

Dengan catatan terdapat kesepakatan dengan pemerlu layanan dan memperhatikan aspek-aspek kemampuan dan yang terbaik bagi penerima layanan.

 

Rencana Intervensi dan intervensi

Kalau sudah tahu apa yang menjadi masalah utamanya. Barulah dibuat rencana pemecahannya. Untuk melakukan intervensi bisa dibuat langkah-langkahnya terlebih dahulu.

 

Misalnya mencari kayu dulu, membuat pagar peghalau, memasang jerat, hingga upaya mengusir hewan buas. Jika rencananya adalah mengamankan lahan perkebunan dan masalahnya adalah gangguan hewan liar.

 

Tahap Lanjut dan Terminasi

Disini merupakan langkah pekerja sosial memastikan bahwa pemerlu layanan sudah mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar. Dan layanan yang diberikannya juga sudah tuntas sesuai dengan prosedur.

 

Misalnya memastikan bahwa mereka sudah bisa membuat pagar penghalau dan jerat yang baik. Serta menguasai teknik mengusir hawan liar yang tepat.

 

Jangan lupa dituangkan dalam kontrak pengakhiran layanan. Jadi pelayanan yang diberikan pekerja sosial ada ketuntasannya.

 

Dan jika pemerlu layanan memang memerlukan layanan lanjutan, maka perlu dibuat dan disepakati lagi kontrak layanan yang baru.

 

Sehingga pekerja sosial bisa fokus praktik dengan layanan lainnya (meskipun dengan pemerlu layanan yang sama).

 

Baca Juga :

 

Baca Lebih Lanjut

Apakah ada komentar