Praktik Pekerjaan Sosial dan 5 Peran Caseworker

Perspektif Baru Praktik Pekerjaan Sosial Dengan Individu

Tujuan Praktik Pekerjaan Sosial

Pendidikan Pekerjaan Sosial mengacu pada Educational Policy and Accreditation Standards (EPAS), memiliki tujuan agar pekerja sosial memiliki kompetensi self-reflective, value guided, dan berpikir kritis menggunakan pengetahuan dan keterampilan (CS WE, 2014).

praktik pekerjaan sosial

Tujuan pekerjaan sosial adalah berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan masyarakat, meningkatkan kualitas kehidupan, meningkatkan keadilan ekonomi dan sosial dan mengurangi/menghapus kemiskinan (EPAS, 2015), (dikutip dari Hepworth, 2017).

Baca juga :

Berbagai pakar pekerjaan sosial menjelaskan bahwa tujuan pekerjaan sosial dapat dikelompokkan kedalam 2 tujuan, yaitu :

  1. Peningkatan keberfungsian sosial.
  2. Reformasi/Perbaikan kondisi sosial (Zastrow, 2017).

Awal Social Casework

Pada awalnya praktik pekerjaan sosial dikelompokkan berdasarkan metode-metode. Seperti social casework, social groupwork, community organization dan lainnya.

Social casework merupakan metode praktik pekerjaan sosial yang pertama kali dikembangkan. Casework, karena awalnya merupakan satu-satunya metode, bahkan dianggap sebagai praktik pekerjaan sosial itu sendiri.

Perintis social casework adalah Mary Richmond yang menulis buku Social Diagnosis pada tahun 1917. Mary Richmond yang pertama kali merumuskan konsep dan dasar-dasar social casework.

Social casework adalah metode praktik yang dirancang untukmengembangkan kepribadian melalui penyesuaian yang secara sadar dilakukan oleh individu dengan individu dan diantara pribadi dengan lingkungannya (Ambrosino, 2008).

Pakar lainnya, H.H Perlman (1957) menjelaskan, casework adalah metode dalam praktik pekerjaan sosial yang memberikan bantuan kepada individu dan keluarga, kasus demi kasus untuk menghilangkan dan mengatasi masalah-masalah yang menghambat kecukupan keberfungsian hidup sehari-hari mereka. Casework adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologis dan sosial mereka (dikutip dari Gilbert &Specht, 1981); Zastrow, 2017).

Konteks Sosial Casework

Akar atau sumber dan pihak-pihak yang mengembangkan teori dan praktik casework adalah badan sosial yang terorganisasi. Penyebab dari masalah-masalah psikososial yang diderita oleh orang bisa jadi bersumber dari kondisi sosial.

Masalah yang dialami manusia dapat disebabkan oleh:

  1. Kekurangan dana.
  2. Tidak mengetahui dimana atau bagaimana memperoleh sumber-sumber dan pelayanan.
  3. Mengetahui tapi secara fisik dan psikologis tidak dapat menggunakan sumber-sumber.
  4. Kurang mampu secara mental, emosional atau fisik mengatasi masalah.
  5. Konflik di dalam keluarga.
  6. Konflik di dalam diri (aspek-aspek kejiwaan) yang mengganggu pikiran dan perilaku.
  7. Harapan dari orang lain yang apabila tidak dipenuhi menyebabkan agresi.
  8. Harapan dari diri sendiri yang apabila tidak dipenuhi menyebabkan penolakan pada diri sendiri.

Seseorang (termasuk klien) hidup di dalam transaksi sehari-hari secara terus menerus dengan orang lain dan lingkungan sosialnya. Jejaring dinamis ini mempengaruhi apa yangmereka pikirkan, rasakan dan lakukan.

“Sosial” yang menjadi perhatian pekerjaan caseworker menentukan jenis masalah dan orang-orang, yang memerlukan pertimbangan yang sangat mendalam dari caseworker. Oleh karenanya, seorang caseworker dituntut untuk menciptakan relasi yang dapat diterima secara timbal balik diantara pelanggar norma sosial dan sistem (dikutip dari Gilbert & Specht, 1981;Zastrow,2017).

Mengapa Orang Mengalami Masalah

Masalah-masalah keberfungsian sosial orang dihasilkan oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut dapat berupa :

  1. Genetik dan hereditas (karakteristik fisiologis)
  2. Sosialisasi
  3. Perbedaan kultural
  4. Faktor-faktor lingkungan
  5. Struktur kesempatan

Perkembangan Pekerjaan Sosial

Nama atau istilah pekerjaan sosial

Sebelum tahun 1970, praktik pekerjaan sosial didefinisikan berdasarkan metodelogi atau bidang praktik (Casework, Groupwork, Community Organization/Community Development, pelayanan kesejahteraan sosial dengan anak, pelayanan kesejahteraan keluarga dan lainnya).

Istilah praktik langsung dan praktik klinis baru dimulai pada tahun 1955, sejak terbentuknya NASW (National Association of Social Workers) dan peringatan Jurnal Pekerjaan Sosial.

Ketika profesi pekerjaan sosial dipadukan, sehingga praktik pekerjaan sosial yang semula mengacu pada tinjauan yang sempit menjadi luas.

Sampai dengan tahun 1960 ‘an dan 1970 ‘an profesi pekerjaan sosial dianggap terlalu berorientasi pada penyembuhan.

Mulai dari tahun 1965, ahli-ahli pekerjaan sosial (Gordon, 1965; Barlett, 1969 & 1970; Minahan & Pincus, 1977) merumuskan kerangka kerja yang memiliki body of knowledge dan filosofi pekerjaan sosial yang diambil dari unsur-unsur metode praktik yang dapat diterapkan diberbagai setting.

Kerangka kerja ini meliputi tujuan, nilai, sanksi, pengetahuan dan keterampilan yangbersifat umum terkait dengan pekerjaan sosial.

Kerangka kerja ini menghasilkan kerangka kerja yang lebih luas. Namun karena kerangka kerja ini tidak berorientasi pada berbagai metode-metode praktik, selanjutnya dicarikan istilah baru yaitu Praktik Pekerjaan Sosial.

Kebijakan Council on Social Work Education (CSWE)

Menanggapi kerangka kerja baru dari pekerjaan sosial,  CSWE menetapkan kebijakan kurikulum bagi pendidikan profesi pekerjaan sosial, sehingga menjadi acuan bagi standar akreditasi. Kebijakan yang ditetapkan adalah pendidikan profesi pekerjaan sosial wajib berisikan materi Pendidikan Dasar Praktik Generalis (dikutip dari Zastrow, 2017; Ambrosino, 2010).

Pandangan Pakar Pekerjaan Sosial tentang Pendekatan/Model/Perspektif

Pendekatan Generalis

Praktik pekerjaan sosial generalis mencakup beberapa gagasan umum, yaitu: konsep sistem, berbagai metode, pemecahan masalah, dan kemitraan dengan klien (K. K. Kirst-Ashman, 2010).

Lebih lanjut, praktik generalis menitikberatkan pada tujuan dan nilai-nilai pekerjaan sosial, berbagai peran atau kapasitas pekerja sosial dalam memberikan pelayanan, serta penggunaan proses perubahan berencana untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan memperbaiki keberfungsian sosial.

Pengertian praktik pekerjaan sosial generalis

Praktik generalis adalah aplikasi pengetahuan secara eklektik, nilai-nilai profesional dan sejumlah keterampilan yang berlangsung di dalam konteks proses-proses yang :

  1. Menitikberatkan pada pemberdayaan klien
  2. Bekerja secara efektif di dalam struktur organisasi dan dibawah supervise
  3. Menggunakan berbagai peranan.
  4. Berdasarkan pada prinsip-prinsip praktik berbasis bukti (memiliki rencana intervensi berbasis bukti keberhasilan di masa lampau dan evaluasi hasil intervensi untuk meningkatkan pemberian pelayanan di masa depan)
  5. Menggunakan keterampilan berfikir kritis dalam proses perencanaan perubahan.

Tipologi Generalis

Praktik pekerjaan sosial generalis menuntut para pekerja sosial untuk mempelajari masalah secara holistik dan mempersiapkan diri untuk merancang rencana intervensi pada berbagai level intervensi yang ditujukan pada sistem yang terkait dengan persoalan klien. Pendekatan holistik mempertimbangkan berbagai dimensi keberfungsian manusia seperti biologis, sosial, psikologis, kultural dan lainnya (K. K. Kirst-Ashman, 2010).

Tipologi generalis ini berkaitan dengan peran-peran praktik generalis. Peran-peran praktik generalis menjelaskan konsepsi tentang hakekat dan fungsi pekerja sosial. Peran-peran praktik generalis diantaranya :

Generalis yang mengkombinasikan metode-metode pekerjaan sosial

Metode-metode pekerjaan sosial memiliki ciri-ciri yang sama dan diciptakan satu keseluruhan yang terpadu.

Generalis manajer kasus

Fungsi manajer kasus mengurangi fragmentasi pemberian pelayanan dan meningkatkan akses untuk memperoleh bantuan.

Generalis yang mencakup sejumlah peran

Pekerja sosial dituntut untuk menguasai dan melaksanakan berbagai peran

Generalis yang memusatkan perhatian pada masalah

Fungsi utama pekerja sosial adalah memahami masalah dan kemudian melakukan intervensi sesuai dengan kemampuan memberikan pertolongan.

Generalis pemberian pelayanan

Pekerja sosial dituntut untuk memahami perannya sebagai seorang profesional yang bekerja bersama profesional lain yang berasal dari berbagai bentuk/bidang pelayanan yang memerlukan kolaborasi antar disiplin.

Generalis ideologis

Pekerja sosial diwajibkan untuk mengacu pada nilai-nilai profesi dan nilai-nilai kemanusiaan secara internasional yang tujuan akhirnya adalah kesejahteraan umat manusia.

Generalis berorientasi pada sistem.

Pekerja sosial mengacu pada pendekatan sistem.

Model Ekologis

Perspektif generalis profesi pekerjaan sosial berlandaskan pada model ekologis. Model ekologis berasal dari biologi, yang cocok dengan perspektif pekerjaan sosial yaitu “orang di dalam lingkungan”, yang dikenal dengan nama person in environment (PIE).

Model ekologis adalah cara-cara untuk mengkaji kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dalam transaksi antara orang, keluarga, kebudayaan dan masyarakat sebagai suatu sistem.

Konsep-konsep penting dalam model ekologis

K. K. Kirst-Ashman (2010) dalam (Hepworth, 2017) menyebutkan beberapa konsep penting dalam model ekologis, yaitu :

Habitat

Tempat organisme hidup, dalam hal ini manusia, yang meliputi settingfisik dan sosial di dalam konteks kebudayaan tertentu.

Niche

Status atau peran anggota-anggota masyarakat, dimana tugas manusia menuju kedewasaan adalah memperoleh niche yang penting bagi manusia untuk menimbulkan penghargaan pada diri sendiri dan identitas diri yang stabil.

Lingkungan sosial

Mencakup kondisi dan interaksi yang terkait dengan manusia, seperti individu, kelompok, organisasi, pemerintah, peraturan sosial dan lainnya.

Coping

Perjuangan orang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengatasi masalah.

Karakteristik model ekologis.

Adapun karakteristik yang ada dalam model ekologis antara lain :

  1. Mengintegrasikan upaya-upaya penyembuhan dan reformasi (perbaikan) kondisi sosial ekonomi masyarakat dengan menitikberatkan pada transaksi disfungsional antara orang dengan lingkungan fisik dan sosialnya.
  2. Mengkaji faktor-faktor internal dan eksternal orang.
  3. Meningkatkan pola-pola coping diantara orang dengan karakteristik lingkungannya
  4. Memandang individu, keluarga dan kelompok kecil mengalami masalah-masalah transisional (peralihan) dan masalah pemenuhan kebutuhan ketika mereka bergerak dari tahap kehidupan pertama ke berikutnya. Individu mengalami banyak perubahan sepanjang hidupnya.
  5. Mengkaji kesalingtergantungan dan interaksi antar level mikro ke level makro dan menetapkan sasaran intervensi pada beerbagai level untuk menangani masalah-masalah sosial dan kebutuhan individual.

Level lingkungan (tingkat praktik)

Bronfenbrenner mengelompokkan tingkatan praktik berdasarkan lapisan lingkungan (dikutip dari Ambrosino, 2008; Langer, 2015). Pakar-pakar pekerja sosial pada umumnya menggunakan istilah tingkat praktik.

  • Level mikro meliputi individu dan semua individu dalam kelompok didalam lingkungan kehidupan sehari-hari.
  • Level meso, mencakup hubungan diantara dua sistem mikro yang dihubungkan oleh seseorang yang berada dikedua sistem makro.
  • Level exo, mencakup level masyarakat yang tidak secara langsung berhubungan dengan individu tetapi berpengaruh pada cara individu berfungsi, mencakup seperti halnya polisi di tempat kerja, pengurus sekolah, dan lainnya; sikap dan nilai-nilai masyarakat; faktor-faktor/keadaan sosial ekonomi di masyarakat; lembaga-lembagasosial; pelayanan sosial yang ada di masyarakat dan lainnya.

Kerangka kerja ekologis praktik pekerjaan sosial

Ambrosino (2008) menggambarkan kerangka kerja ekologis praktik pekerjaan sosial seperti berikut :

  • Memperoleh banyak data karena menggunakan berbagai disiplin ilmu.
  • Diterapkan pada berbagai tipe klien, meliputi individu, keluarga, kelompok, organisasi masyarakat dan sosieta.
  • Melakukan identifikasi pada berbagai faktor yang memiliki dampak pada masalah-masalah kesejahteraan sosial, saling hubungan antar faktor dan cara-cara satu faktor mempengaruhi faktor lainnya.
  • Merubah perhatian dari ciri-ciri individu atau lingkungan ke transaksi antar sistem dan pola-pola komunikasinya.
  • Memandang individu sebagai pihak yang aktif terlibat dengan lingkungannya, mampu melakukan penyesuaian dan perubahan.
  • Beranggapan bahwa, sistem berorientasi pada tujuan, mendukung penentuan nasib diri sendiri klien dan mendukung partisipasi klien dalam proses perubahan.
  • Tujuan pekerjaan sosial menyediakan dan memelihara bagi seluruh penduduk dan berupaya untuk mengurangi isolasi individu dan sistem.
  • Pekerja sosial perlu menjamin agar perubahan dan ketegangan tidak ditentang didalam sistem dan menghilangkan pandangan bahwa perubahan dan konflik adalah patologis.
  • Pekerja sosial wajib menyadari sistem yang didalamnya pekerja sosial bekerja bagaimana cara sistem tersebut mempengaruhi keseluruhan. Pekerja sosial wajib memilih poin (titik) tertentu untuk intervensi dengan hati-hati.
  • Pekerja sosial adalah sistem sosial dan bagian dari jejaring sistem sosial.

Perspektif kekuatan

Perspektif praktik pekerjaan sosial generalis ditujukan pada identifikasi kekuatan-kekuatan sistem untuk meningkatkan kecocokan yang positif antara orang dengan lingkungan (Ambrosino, 2008).

Perspektif kekuatan berupaya untuk menyeimbangkan model yang semata-mata terpusat pada masalah (model medik) dengan pengenalan dan penghargaan pada kekuatan-kekuatan klien, kesuksesan di masa lalu dan pengecualian terhadap masalah yang mereka hadapi.

Konsep-konsep kunci perspektif kekuatan

Kekuatan

Sumber-sumber dan kapasitas di dalam dan di luar diri orangyangmembantu orang melakukan proses perubahan.

Ketahanan/Ketangguhan

Berupaya mengatasi kesulitan, memelihara ataumeningkatkan keberfungsian orang.

Harapan

Keyakinan akan kemungkinan memperoleh hasil yang positif.

Kebudayaan

Keyakinan, tradisi dan kegiatan sehari-hari orang.

Identitas kebudayaan

Keanggotaan atau perasaan termasuk pada suatu kelompokyang dapat memberikan informasi tentang keyakinan, praktik-praktik dan tradisi.

Kolaborasi

Hubungan yang menyetarakan kekuasaan dan mendukung pembuatankeputusan Bersama.

Prinsip-prinsip perspektif kekuatan

  1. Semua orang, keluarga, kelompok dan masyarakat memiliki kekuatan.
  2. Semua orang, keluarga, kelompok dan masyarakat memiliki kapasitas untuktumbuhdan melakukan perbaikan.
  3. Semua orang merupakan ahli dalam kehidupan mereka sendiri.
  4. Pemberian dukungan dan pelayanan wajib dilakukan pada tempat berlangsungnyapemberian dukungan dan pelayanan secara alamiah (di lokasi klien berada).
  5. Hubungan kemanusiaan sangat penting. (Langer, 2015)

Praktik pekerjaan sosial dengan individu

Praktik pekerjaan sosial dengan individu disebut sebagai praktik langsung, karena dilakukan dengan memberikan pelayanan secara langsung kepada klien dan seringkali dengan cara hubungan sosial tatap muka (Hepworth, 2017).

Di Indonesia praktik pekerjaan sosial dengan individu secara langsung dapat dijumpai pada beberapa organisasi atau lembaga pemberi layanan seperti : Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3), Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A), atau Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) lainnya.

Praktik pekerjaan sosial dengan individu dilaksanakan dalam konteks hubungan satu orang dengan satu orang untuk membantu klien menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau mengubah tekanan-tekanan ekonomi dan sosial tertentu yang menimbulkan masalah kepada klien (Zastrow, 2017).

Praktik pekerjaan sosial secara langsung dapat dilakukan pada berbagai setting sosial dan bidang masalah serta dengan melakukan berbagai peran.

Prinsip-prinsip praktik langsung

Pekerja Sosial yang melakukan praktik pekerjaan sosial secara langsung perlu memperhatikan beberapa prinsip praktik pekerjaan sosial berikut :

  1. Masalah-masalah yang dialami klien berasal dari kekurangan sumber-sumber, pengetahuan dan keterampilan.
  2. Pekerja sosial yang bekerja dengan klien yang mengalami diskriminasi dan kekurangan sumber-sumber, berupaya agar klien memperoleh akses pada sumber-sumber tersebut secara bermartabat, dalam praktiknya dapat melakukan negosiasi dan advokasi dengan sistem atau mengembangkannya.
  3. Seseorang (klien) memiliki kemampuan membuat pilihan dan keputusannya sendiri.
  4. Sistem pelayanan sosial seringkali memberikan pelayanan kepada orang yang disfungsi, oleh karenanya pekerja sosial berperan melakukan fungsi edukasi kepada sistem pelayanan agar lebih sensitif dan melakukan pendekatan yang sistematis, serta mengutamakan kesehatan, kekuatan dan dukungan alamiah.
  5. Pekerja sosial bertanggung jawab untuk membantu klien menemukan kekuatan-kekuatannya dan mewujudkan kemampuan klien untuk tumbuh dan berkembang.
  6. Meskipun masalah klien pada saat ini dipengaruhi oleh masa lalu, namun perhatian terhadap masa lalu klien perlu dilakukan secara terbatas walaupun bermanfaat, karena memusatkan perhatian pada saat ini akan lebih baik untuk mengerahkan kekuatan-kekuatan dan pola-pola coping klien.

Karakteristik Pekerjaan Sosial dalam Praktik Secara Langsung

Beberapa karakteristik pekerjaan sosial dalam praktik langsung (termasuk dengan individu) menurut Hepworth (2017), diantaranya :

  1. Pekerja sosial memiliki tujuan untuk membantu individu kelompok dan masyarakat.
  2. Pekerja sosial dituntut bertanggung jawab sesuai landasan nilai dan prinsip-prinsip yang menjadi pedoman tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
  3. Pekerja sosial beraktivitas dengan berlandaskan pada teknik-teknik dan keterampilan-keterampilan yang memberikan petunjuk tentang bagaimana pekerja sosial melakukan treatment dan mencapai tujuan.
  4. Pekerja sosial dalam membantu seseorang (klien) memperoleh pelayanan yang mereka butuhkan dengan menghubungkan (klien) dengan sumber-sumber yang tersedia.
  5. Pekerja sosial dituntut untuk berperan aktif dalam proses legislasi untuk melakukan perubahan sosial.

Peran-peran pekerja sosial dalam praktik pekerjaan sosial secara langsung

Beberapa peran yang dapat dilakukan oleh pekerja sosial dalam praktik pekerjaan sosial (Hepworth (2017), termasuk saat berpraktik langsung (dengan Individu) antara lain sebagai :

Penyedia pelayanan langsung

  • Casework individual atau konseling
  • Pendidikan dan diseminasi informasi

Penghubung dengan sistem

  • Broker
  • Manajer kasus dan koordinator
  • Mediator dan pembela

Pengelola Sistem

  • Analis organisasi
  • Fasilitator
  • Konsultan
  • Supervisor

Pengembang sistem

  • Pengembang program
  • Perencana
  • Pembela

Peneliti.

Sumber :

M. Rondang Siahaan, pada Webinar Perspektif Baru Teori Perilaku Manusia serta Praktik Pekerjaan Sosial dengan IndividuBandung, 11 Februari 2022.

Apakah ada komentar