DUKUNG ORANG DENGAN KEBUTUHAN KHUSUS DENGAN 5 PARADIGMA BARU

Populasi orang dengan kebutuhan khusus di Indonesia tahun 2020 diperkirakan mencapai angka 22,7 Juta Jiwa. Pada Januari 2020, tercatat dalam data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) sebanyak 1.079.048 jiwa jumlah individu berkebutuhan khusus dengan status kesejahteraan 40 % (terendah di Indonesia).

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, sekitar 17 juta jiwa dengan kebutuhan khusus masuk usia produktif. Namun hanya 7,6 juta jiwa yang bekerja.

 

Dari data yang ada tersebut, jumlah orang dengan kebutuhan khusus yang terbanyak adalah laki-laki, kecuali pada kelompok usia lanjut (+60 Tahun).

 

orang dengan kebutuhan khusus
@freepik.com

 

Siapakah orang dengan kebutuhan khusus?

 

Istilah orang dengan kebutuhan khusus merujuk pada istilah penyandang disabilitas dan/atau difabel. Disabilitas sendiri berasal dari kata disability yang berarti kehilangan kemampuan. Sedangkan difabel berasal dari kata different ability yang berarti kemampuan berbebeda.

 

Disabilitas dan difabel merupakan istilah yang menggambarkan pada keterbatasan seseorang melakukan suatu aktivitas tertentu. Terlepas dari pemaknaannya, yang lebih penting adalah bagaimana mereka mendapatkan layanan yang optimal.

 

6 Klasifikasi Gangguan Fungsional

 

Data Susenas tahun 2020 mengklasifikasikan orang dengan kebutuhan khusus kedalam 6 (enam) klasifikasi gangguan fungsional, yaitu:

1) Kesulitan/ Masalah Mengurus diri sendiri;

2) Kesulitan/ Masalah berbicara;

3) Kesulitan/masalah emosi;

4) Kesulitan/Masalah Ingatan;                       

5) Kesulitan/Masalah Tangan;

6) Kesulitan/Masalah Kaki.

 

Perubahan Paradigma Layanan

 

Dalam memberikan layanan terhadap orang dengan kebutuhan khusus, saat ini menggunakan paradigma sebagaimana dalam UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas bukan lagi seperti pada UU No. 4 Tahun 1997.

 

Berikut merupakan paradigma dalam memberikan layanan terhadap orang berkebutuhan khusus.

 

1. Subjek bukan objek

Pemberi layanan terhadap orang berkebutuhan khusus perlu memandang orang dengan kebutuhan khusus sebagai subjek bukan lagi sebagai objek;

2. Kemanusiaan bukan kasihan

Pelayanan terhadap orang dengan kebutuhan khusus lebih mengutamakan pendekatan kemanusiaan dan bukan lagi sekedar belas kasihan;

3. Mampu mandiri tidak ketergantungan

Pada dasarnya orang dengan kebutuhan khusus merupakan seseorang yang mampu beraktivitas mandiri secara wajar, mereka hanya memerlukan dorongan dan pendampingan untuk dapat berkembang, mereka bukanlah ‘pesakitan’ yang tidak bisa melakukan segala sesuatu secara mandiri, sehingga memperlakukan mereka secara khusus dan berlebihan yang cenderung memperlakukan mereka secara diskriminatif dan pada akhirnya mematikan potensi yang ada pada diri mereka;

4. Layanan Multi Sektor

Layanan terhadap orang dengan kebutuhan khusus tentu memerlukan dukungan dari multi sektor, bukan hanya satu sektor saja, misalnya hanya sosial, kesehatan atau pendidikan saja; dan

5. Peran aktif semua pihak

Layanan terhadap orang dengan kebutuhan khusus perlu peran aktif semua pihak, bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat, keluarga dan juga swasta.

 

Apakah ada komentar