Mencari Keridhaan Allah, Perniagaan yang Menguntungkan

Mencari keridhaan Allah


Mencari keridhaan Allah
foto oleh İbrahim Mücahit Yıldız dari Pixabay

“Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (TQS : 2 : 207)

Asbabun-Nuzul

Harits bin Abi Usaham dalam kitab Musnad-nya dan Ibnu Abi Hatim dari Sa’id bin Musayyab menceritakan bahwa ketika hijrah ke Madinah menyusul Rasulullah saw, orang-orang kafir Quraisy pun mengejar kaum muhajirin salah satunya adalah Shuhaib. Ia turun dari kendaraan dan siap dengan anak panah di tangan, seraya berkata :

“Wahai orang-orang musyrik Quraisy, kamu sekalian tahu bahwa aku adalah seorang pemanah ulung. Demi Allah kamu tidak akan bisa menyerangku selagi panah dan pedang berada di tanganku. Sekarang terserah kalian, ada dua pilihan: kalian mati terbunuh atau memiliki seluruh hartaku yang kutinggalkan di kota Makkah, tapi dengan syarat tidak menganggu kepergianku hijrah ke Madinah.”

Orang-orang Quraisy lebih memilih untuk memiliki harta kekayaan yang Suhaib yang berada di Makkah dan membiarkannya pergi.

Suhaib pun menceritakan peristiwa ini kepada Rasulullah sesampainya di Madinah. Maka Rasulullah bersabda, “Perdaganganmu itu memperoleh laba yang banyak, wahai Abi Yahya. Engkau telah beruntung, wahai Abi Yahya.”

Sehubungan dengan peristiwa tersebut Allah swt menurunkan ayat di atas sebagai kabar gembira bagi kaum muslimin yang telah rela mengorbankan harta kekayaannya demi mencari ridha Allah swt.

Baca juga : Puasa Dawud, Sebaik – baik Puasa Sunnah

Posisi Manusia terhadap Sang Penciptanya

Allah menghargai manusia lebih dari yang lain. Meskipun sebagai makhluk sebenarnya manusia tidak lebih dari hasil karya-Nya, yang semestinya tidak memiliki hak apa-apa atasnya. Apalagi mengklaim telah mempunyai hak atas yang lain, tapi Allah tetap menghormatinya sebagai subyek yang berdiri sendiri.

Manusia sebagai subyek

Sebenarnya posisi manusia di hadapan Allah tidak ada apa-apanya. Artinya hubungan Allah dengan manusia tidak lebih dari hubungan antara Sang Pencipta dan yang ciptaan-Nya. Hubungan itu selayaknya hubungan manusia dengan benda-benda buatannya. Maka kekuasaan penuh berada di tangan yang mencipta.

Mau membentuknya menjadi gepeng, bulat atau lonjong, itu terserah. Mau membantingnya, mengangkatnya, atau pun melemparkannya juga terserah. Suatu ciptaan tidak punya hak apa-apa, dan karenanya tidak bisa menuntut apa-apa terhadap yang menciptakannya.

Manusia tidak mempunyai hak atasnya

Pada dasarnya manusia tidak punya hak atas diri sendiri, apalagi terhadap yang lain. Harta benda, rumah, kendaraan, perhiasan, termasuk nyawa itu milik Allah sepenuhnya. Oleh karenanya sebenarnya tidak ada istilah berkorban demi Allah. Apa yang kita korbankan ?, sementara harta juga jiwa dan raga kita semuanya milik Allah?

Sebenarnya tak pantas sebutan memperjuangkan kalimatullah. Biarpun tidak kita perjuangkan, kalimat Allah itu pasti tegak. Apa susahnya bagi Allah menegakkan kalimah-Nya? Bukankah jia Dia menghendaki semuanya pasti terjadi, kun fayakun ?

Allah Bertransaksi dengan manusia

Tapi di sini ada rahasia sifat Rahman dan Rahim-Nya. Allah meninggikan derajat manusia, Allah memberi manusia kekebasan sebagai makhluq merdeka, yang boleh menentukan pilihan, termasuk pilihan untuk menentang-Nya.

Allah membeli dari manusia

Sebagai subyek, Allah mengangkat manusia sehingga manusia bisa menjadi orang kedua atau ketiga, anta atau huwa. Sebagai subyek, manusia mempunyai sederet hak yang Allah ‘akui’ sebagai miliknya, yang karena haknya itu ia bisa melakukan transaksi, berupa jual-beli atau pinjam-meminjam.

Karena ‘pengakuan’ atas hak manusia itulah Allah mengajak manusia berjual-beli, atau melakukan aqad pinjaman. Hal ini bisa kita telusuri dari ayat di atas. Di sana menyebutkan “man yasyrii nafsahu”, orang yang menjual dirinya. Manusia bertindak sebagai penjual, sementara Allah sebagai pembelinya.

Dalam ayat yang lain lebih gamblang lagi, di mana Allah membeli diri dan harta kaum muslimin dengan harga surga. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang yang beriman, diri mereka dan harta mereka dengan imbalan surga.” (QS at-Taubah: 111)

Sekali lagi, meskipun jiwa dan raga, juga harta manusia itu milik Allah semata-mata, tapi dalam kaitan ini Allah telah menyerahkannya kepada manusia, untuk kemudian setelah manusia berdaya, Allah mengajak mereka untuk melakukan transaksi jual beli. Jika tawaran ini terpenuhi, Allah memberinya surga. Akan tetapi jika manusia menolaknya, maka balasannya adalah neraka. Dalam hal ini tidak perlu memberli neraka, karena neraka tidak punya harga sama sekali. Jangankan harus membeli, diberi saja orang berebut untuk lari.

Allah meminjam dari manusia

Demikian halnya dalam ayat yang lain, Allah menyebut diri-Nya meminjam kepada kaum muslimin. Ketika ayat ini turun, para kuffar mengatakan kepada Muhammad bahwa Tuhannya ummat Islam itu fakir, buktinya, Dia masih harus meminjam dari kaum muslimin. Menurut logika jahiliyah mereka, hanya orang miskin yang membutuhkan pinjaman.

Padahal Allah sama sekali tak membutuhkan pinjaman apapun, dari siapapun. Kata meminjam di sini hanya istilah agar manusia lebih tertarik untuk melakukan kebaikan. Efek dari kebaikannya itu akan kembali pada diri mereka sendiri, yaitu berupa pahala yang berlipat ganda. Perhatikan ayat di bawah ini:

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat-gandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS al-Baqarah: 245)

Dalam ayat ini jelas sekali bahwa Allah tidak mendapatkan apa-apa dari harta yang dipinjamkan manusia. Yang menikmati pinjaman ini adalah sesama manusia. Sama halnya ketika manusia diperintahkan untuk berRajab korban pada Idul Adh-ha. yang menikmati sembelihannya adalah manusia. Darah dan daging sembelihan itu sama sekali tidak sampai kepada Allah. Dalam hal ini Allah menegaskan:

“Tidaklah sampai kepada Allah daging dan darahnya, akan tetapi yang sampai kepada Allah adalah nilai taqwa di antara kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Orang-orang yang berkorban mencari keridhaan Allah

Shuhaib adalah satu di antara sekian banyak sahabat Rasulullah yang mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk dapat menikmati kehidupan yang lebih damai dalam naungan bendera Islam. Ia rela bersusah-payah, mengorbankan sebagian kenikmatan duniawi untuk ditukar dengan kenikmatan yang abadi.

Hidup dalam keridhaan Allah tidak ternilai harganya, tidak bisa dibandingkan dengan apapun juga. Biarpun bumi dan langit tergadaikan, tak sanggup untuk menggantikan keridhaan Allah. Apalagi sekadar kenikmatan duniawi,berupa harta benda, sedang nyawa sekalipun diserahkan juga.

Demikianlah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia rela menemani Rasulullah yang pergi meninggalkan Makkah dalam pengepungan musuh. Andaikata tertangkap, tidak ada lagi kata ampun, nyawa pasti melayang di ujung pedang kaum kuffar yang sadis dan kejam.

Umar bin Khathtab pergi berhijrah mencari negeri idaman, dengan cara yang sangat jantan. Sebelum berangkat terlebih dahulu ia mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa ia akan hijrah ke Madinah. Ia berkata, “Siapa yang ingin anaknya yatim dan istrinya menjanda, silakan hadang aku di tempat ini, sekarang juga.”

Sedangkan Ali bin Abi Thalib siap menjadi tumbal, ketika harus menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidurnya. Ia mau saja memakai pakaian, juga selimut Rasulullah, sementara Rasul menyelinap keluar, meninggalkan rumahnya yang berada dalam kepungan pemuda haus darah.

Ali juga harus menyusul ke Madinah dengan membawa rombongan keluarga Rasulullah, yang rata-rata wanita. Dengan tumpangan yang sangat bersahaja, menambah perbekalan secukupnya, rombongan ini meninggalkan kota Makkah yang ia cintai untuk selama-lamanya, walaupu dengan berjalan kaki untuk sampai ke Madinah.

Keridhaan Allah Memang Mahal

Untuk mendapatkan tiket keridhaan Allah mesti harus menebusnya dengan harga sangat tinggi. Salah satunya adalah dengan pengorbanan jiwa dan raga. Ada beberapa ciri orang yang ingin mendapatkan ridha Allah, sebagaimana firman berikut ini menyebutkan :

“Muhammad itu adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS al-Fath: 29)

Menurut ayat di atas, ciri orang yang mencari ridha Allah itu adalah: Pertama, bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Kedua, bersikap kasih-sayang kepada sesama muslim. Dan ketiga, nampak kesungguhannya dalam beribadah.

Orang-orang yang mencari ridha Allah mukanya selalu basah karena air wudhu dan berseri-seri karena telah berjumpa dengan Yang Maha Kasih, Allah swt. Semoga kita tercatat di dalamnya. Aamiin.

sumber : mengolah dari pesan masuk facebook

Apakah ada komentar

%d blogger menyukai ini: