Kopi Racikan, Pelatihan Meracik Menuju Kemandirian

Kopi Racikan

Pelatihan Barista dan Manajemen Kedai Kopi

Pelatihan seduh kopi manual untuk mendapatkan kopi racikan yang pas, menjadi salah satu upaya Manajemen Andre Hehanusa untuk membantu menguatkan pekerja yang terdampak Covid-19. Pelaksanaan pelatihan dengan materi Barista dan Manajemen Kedai Kopi tersebut berlangsung pada tanggal 12 – 13 November 2020 berlokasi di Rumah Sagaleh Jl. Wijaya IX No. 9A Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Baca Juga : Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Jenis dan Fungsinya

Peserta pelatihan berasal dari kalangan pekerja jurnalis, travel dan lainnya yang terdampak Covid-19, sehingga kehilangan pekerjaannya. Untuk dapat mengoptimalkan hasil pelatihan, Manajemen Andre Hehanusa mengajukan bantuan ke Kementerian Sosial. Peruntukan bantuan yaitu bagi mereka yang telah menyelesaikan pelatihannya.

Untuk memastikan para peserta pelatihan telah menerima bantuan dan mampu menghasilkan produk, Kementerian Sosial melalui Direktorat Pemberdayaan Sosial Perorangan, Keluarga dan Kelembagaan Masyarakat melakukan kunjungan ke lokasi penerima bantuan tersebut. Pemberian bantuan disalurkan melalui Manajemen Andre Hehanusa.

20 Profil Peserta dan Brand Kopi Racikan

Berikut hasil monitoring kepada 20 orang penerima bantuan yang telah mengikuti pelatihan Barista dan Manajemen Kedai Kopi :

1. Rioaldo – D’Coffe (Tebet – Jakarta Selatan)

Aldo mengunakan brand D’ COFFEE. Dia menjual kopi racikannya di cafenya. Dia juga melakukan penjualan online. Kopi yang bisa ia jual mencapai 25 botol seharinya.

2. Ahmad – Blande (Pamulang – Tangerang Selatan)

Pak Ahmad sebelumnya bekerja pada travel yang memberangkatkan umroh dan haji. Pada Maret 2020 ia kehilangan pekerjaannya dan tanpa pesangon. Setelah mengikuti pelatihan, ia langsung mulai berjualan dengan brand BLANDE. Pak Ahmad sangat antusias untuk berjualan. Pada perkembangannya, pak Ahmad mengajak temannya yang hobi dan ahli dalam meracik kopi untuk berkongsi, serta merekrut 2 orang staf. Ia pun mendapatkan dukungan dari temannya dengan menyediakan tempat yang cukup strategis dan berada dekat dengan jalan besar.

3. Syaffa – Sabotol (Serpong – Tangerang Selatan)

Caca begitu sapaannya, dia sangat bersemangat untuk berwirausaha. Ia mengusung brand kopi SABOTOL, mulai berjualan setelah mengikuti pelatihan. Meskipun belum bekerja sama dengan market place (semisal gofood ataupun grab), namun ia telah menjual kopi racikannya secara online dan menitipkannya pada usaha percetakan. Keinginannya adalah memiliki cafe kopi sebagai tempat mahasiswa melakukan diskusi dan belajar kelompok. Saat ini masih mencari tempat dengan harga terjangkau.

4. Cynthia – Digowo (Ciputat – Kota Tangerang Selatan)

DIGOWO merupakan Brand kopi hasil racikan Cynthia. Ia bekerjasama membuat konter kecil didepan rumah temannya yang menyediakan tempat berjualan. Tempat tersebut cukup strategis karena berada tepat di depan fasilitas sosial seperti lapangan tenis (serba guna) dan layanan Posyandu. Sehari ia dapat menjual secara langsung hingga 20 cup/botol. Sementara untuk penjualan secara online, ia hanya melayani jika jumlah pesanan minimal 12 botol. Dengan varian rasa yang cukup banyak, konsumen leluasa memilih rasa. DIGOWO juga telah tersedia pada platform go food.

5. Rizal (Ampera – Jakarta Selatan)

Setelah mengikuti pelatihan pak Rizal mulai berjualan. Ia menitipkan kopi racikannya pada toko temannya. Meskipun penjualan sehari hanya 5 botol, pak Rizal merasa terbantu karena dapat menambah penghasilannya. Ia berharap bisa mendapatkan pelatihan digital marketing. Ia merasa berjualan secara offline memerlukan tempat, biaya lebih dan waktu.

Baca Juga : Kelompok Rentan dan Pandemi Covid-19

6. Astrid – Laddyboss Coffee (Pondok Bambu – Jakarta Timur)

Astrid sapaannya, mulai meracik sendiri dan berjualan setelah pelatihan dengan brand kopi LADYBOSS COFFEE. Kini ia sudah mencoba berjualan secara online. Selain itu, dia juga menitipkan kopi hasil racikannya ke warung tetangga.

7. Zaki – Qaisar (Cawang – Jakarta Timur)

Brand kopi racikannya adalakh QAISAR. Zaki mulai berjualan setelah mendapatkan pelatihan dan bantuan berupa alat dan bahan pembuatan kopi. Ia menjual kopi hasil racikannya secara online, baik melalui WA dan istagram. Sehari kopi racikannya bisa terjual sampai 80 botol. Untuk kelancaran usahanya, dia juga telah melakukan pembukuan untuk mencatat hasil rugi/ laba usahanya.

8. Firman S. (Jati Asih – Kota Bekasi)

12A merupakan brand dari kopi racikan Firman. Ia menjualnya secara online. Marketnya adalah anak sekolah dengan menitipkan melalui anak dan jejaring teman – temannya. Saat ini Firman mampu menjual kopi hasil racikannya sehari hingga 1 liter. Varian rasa yang ia tawarkan cukup cukup beragam, seperti kopi latte, kopi gula aren, kopi karamel, dan kue gabin.

9. Lia – Sabekong (Cikarang – Bekasi)

Ibu Lia dengan brand kopi SABEKONG sudah mencoba berjualan seusai pelatihan. Ia menjual kopinya di sekitaran kolam renang di daerah Setu. Ia pun sudah mencoba untuk memasarkan produknya tersebut melalui media online.

10. Anto – Kopi Datang (Tanah Abang – Jakarta Pusat)

Keluarga ini cukup tangguh dengan keterbatasan ekonomi masih bisa ceria. Brand kopi Anto begitu orang lain menyapanya, adalah KOPI DATANG. Jurnalis freelance pada salah satu industri media digital ini, tidak dapat banyak yang bisa ia kerjakan untuk menghidupi keluarganya saat pandemi covid-19. Karena keterbatasan tempat, membuatnya kesulitan untuk bisa berjualan secara langsung, sehingga ia mencoba menjajakinya melalui media sosial. Namun sejak ia mempromosikan produknya pasca pelatihan usahanya tersebut masih tersendat.

11. Asep – Kang Jago (Ciomas – Bogor)

Asep merupakan pekerja travel yang sempat dirumahkan. Ia langsung mencoba berjualan kopi racikannya dengan menggunakan brand KANG JAGO usai menerima pelatihan. Target pasarnya adalah keluarga menengah ke bawah yang ada sekitaran Parakanmulya yang lebih sering minum kopi hitam sachet-an. Harga kopi yang ia tawarkan saat ini berkisar antara Rp 12.000,- hingga Rp. 15.000,-. Tantangan yang ia hadapi adalah bagaimana menawarkan rasa kopi kekinian dengan harga yang bersaing.

12. Wawan – Doclo (Ciomas – Bogor)

Wawan adalah sebelumnya pekerja pada travel. Kini ia lebih sering di rumahkan pada saat pandemi covid-19. Setelah ikut pelatihan, kini ia membuka usaha jualan kopi dengan brand DOCLO. Ilmu yang ia dapatkan, ia ajarkan pula pada istrinya, sehingga istrinya pun bisa turut bantu memproduksi. Ia menawarkan produknya dengan menitipkannya ke warung depan rumah dengan harga Rp. 10.000,-.

13. Susan – Hoek (Jatinegara – Jakarta Timur)

Terinspirasi dengan nama jalan dekat rumahnya, kopi racikan Susan menggunakan nama HOEK sebagai brandnya. Meskipun baru satu varian rasa yaitu rasa kopi gula aren susu, tetapi dengan menjual kopi ia telah menambah produk yang ia jual. Sebelumnya ia juga sudah berjualan pulsa dan minuman dingin di rumahnya.

14. Astriana – Akulaku (Cipinang Muara – Jakarta Timur)

AKULAKU adalah brand kopi yang Ria usung. Dengan menjual kopi kekinian melalui media online, ia berharap produknya dapat laku keras. Ria berjualan tidak lama setelah mengikuti pelatihan dan menerima bantuan alat dan dan bahan untuk meracik kopi. Omzet saat ini, ia baru mampu memasarkan sebanyak maksimal 5 botol perminggunya.

15. Silviana – Vanamo Caffe (Kalimalang – Jakarta Timur)

Silvana menggunakan brand kopi racikannya mengambil dari namanya sendiri VANAMO CAFFE. Ia mulai berjualan pasca mengikuti pelatihan. Saat ini Vana menjual kopi dengan menitipkan pada kakaknya yang masih bekerja. Kopi dengan rasa gula aren susu hasil olahannya, mampu terjual antara hingga 10 botol perminggunya.

16. Yohan (Cipayung – Depok)

Pasca mengikuti pelatihan Yohan mulai berjualan dengan marketnya anak sekolah. Kopi racikannya Ia titipkan pada anaknya yang masih sekolah. Sehari bisa terjual sampai 10 botol. Mengingat marketnya untuk anak sekolah, maka kopi racikannya pun ia buat menyesuaikan dengan tidak terlau pekat. Saat ini ia masih dalam tahap penjajagan, sambil mengenali peluang tempat usaha.

17. Ervin – Rayla (Penjaringan – Jakarta Utara)

Ervin adalah salah satu jurnalis freelance yang ‘dirumahkan’. Ia sangat antusias menjual kopi hasil racikannya setelah mengikuti pelatihan barista. Kopi dengan brand RAYLA yang mengambil dari nama anaknya, mampu ia jual hingga 3 botol perhari di warung yang ia miliki. Ia pun berharap dapat menjual kopinya melalui media online, sehingga bisa lebih luas lagi jangkauannya.

18. Billy – SOL (Penjaringan – Jakarta Utara)

Billy menggunakan brand keluarganya yang kemudian ia singkat menjadi SOL. Saat ini ia mampu menjual hingga 10 botol perharinya. Mengingat lokasi tinggalnya di penjaringan, yang sebenarnya marketnya cukup luas, ia berharap dapat lebih optimal menjual kopinya melalui media online. Terlebih kaum milenial yang juga gemar memanfaatkan sosial media dan platform digital lebih menggemari kopi kekinian.

19. Nicholas – Kunanti (Pedemangan Timur – Jakarta Utara)

Nicho menggangkat kopinya dengan brand kopi KUNANTI. Ia memasarkan kopi racikannya melalui media online setelah mendapat pelatihan. Selain kopi rasa gula aren susu, ia juga menyediakan juga minuman red velvet.

20. Francis – Kopi Nepi (Kramat Jati – Jakarta Timur)

Kopi NEPI hasil racikan Frans tampak laris manis. Ia menjual kopi pada warung kecilnya yang berlokasi tempat tinggalnya yang padat penduduk. Selain itu ia juga menitipkan kepada anaknya yang sudah bekerja. Sehari kopi racikannya bisa habis terjual sebanyak 20 botol. Varian rasa dari kopinya masih baru satu varian yaitu kopi rasa susu gula aren.

Baca Juga : Bidang – Bidang Pelayanan Kesejahteraan Sosial

Manfaat Bantuan dan Pelatihan Membuat Kopi Racikan

Berdasarkan hasil melakukan kunjungan ke rumah para penerima bantuan, para penerima bantuan telah mengikuti pelatihan. Mereka juga telah menerima bantuan peralatan dan bahan, seperti alat giling, timbangan digital, cangkir saring, pengepres kopi, biji kopi, susu cair dan gula aren.

Selain itu, mereka juga mulai telah mulai mengaplikasikan hasil pelatihan dengan membuka usaha menjual kopi. Meskipun masih terdapat kendala yang mereka hadapi, tetapi mereka tetap bersemangat.

Dan yang lebih penting lagi, usaha kopi yang mereka lakukan tetap menyatukan keluarga. Keluarga saling membantu dan tidak mengeluh, meskipun Covid-19 berdampak pada pekerjaan mereka sebelumnya. (42)

Apakah ada komentar

%d blogger menyukai ini: