KELOMPOK RENTAN DAN PANDEMI COVID-19

Seminar UI : Kelompok Rentan

Seminar Daring Prodi Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI

Kelompok rentan merupakan kelompok masyarakat yang sangat terdampak dari adanya Covid 19. Termasuk disabiltas, lanjut usia (terlantar), dan korban PHK. Berbeda dengan kelompok yang relatif memliki sumber pendapatan tetap. Kelompok rentan sangat menderita dan perlu intervensi, termasuk intervensi yang bernuansa charity.

Senin, 11 Januari 2021, saya mengikuti Seminar daring Program Studi Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP – Universitas Indonesia. Seminar tersebut mengangkat tema “KEBIJAKAN UNTUK MELINDUNGI KELOMPOK RENTAN DAN MENGURANGI KETIMPANGAN PADA MASA PANDEMI COVID-19 DAN MASA DEPAN: Isu Akses Layanan  Dan Pemanfaatan Bukti Ilmiah.” Berikut gambaran ringkasnya.

Seminar UI : Kelompok Rentan
Seminar Daring

Pembukaan

Sebelum mulai seminar, Moderator sekaligus pemandu kegiatan memberikan kesempatan kepada pengelola Program Studi memberikan sambutan. Hadir memberikan sambutan pembuka Johana Debora Imelda Tobing, MA., PhD yang merupakan Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP-Universitas Indonesia.

Dalam sambutannya, beliau menyampaiakan bahwa Program Doktoral Universitas Indonesia memiliki perhatian dan mendalami konsep terhadap bidang-bidang yang kajian terkait kelompok rentan dalam kesejahteraan sosial. Dan pandemi Covid-19 ini melumpuhkan berbagai bidang. Sehingga tidak hanya menjadi perhatian bidang medis saja, tetapi juga ekonomi dan sosial, terutama terhadap kelompok rentan yang terkadang kerap terlupakan.  

Penyampaian Materi, Kelompok Rentan dan Pandemi Covid-19

Seminar daring mulai pada pukul: 13.30 WIB dan berakhir pada 16.15 Wib. Narasumber pada kegiatan tersebut berjumlah 3 orang Narasumber. Ketiga narasumber tersebut yaitu, Prof. Arief Ansyori Yusuf dari Departemen Ekonomi-Universitas Padjajaran; Prof. Irwanto, Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia, Atma Jaya; dan Lusiani Julia, Senior Program Officer – ILO. Moderator yang memandu dalam Kegiatan tersebut yaitu Dedek Prayudi, BA., MSC, Mahasiswa program Doktoral pada Universitas Indonesia.

Baca Juga : Bidang – Bidang Pelayanan Kesejahteraan Sosial

Materi Pertama

Kesempatan pertama untuk menyampaikan materi adalah Prof. Arief Ansyori Yusuf. Dalam pemaparannya beliau menyampaikan mengenai “Warna dan Arah Kebijakan Penanggulangan Dampak Pandemi dalam Koridor Upaya Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial di Indonesia “.

Materi kedua

Selanjutnya materi tentang “Evidence-based Policy Formulation: dari Data Ke Pengambilan Keputusan Menuju Perubahan Sosial : Pembelajaran Kebijakan HIV/AIDS – Disabilitas – Kekerasan Seksual Terhadap Anak”. Menyampaiakan Paparan tersebut adalah Prof. Irwanto.

Materi Ketiga

Dan materi terakhir oleh Lusiana Julia. Pada kesempatan itu mbak Lusi menyampaikan mengenai “Pemberdayaan Perempuan dalam Lensa Keadilan dan Perlindungan Ketenagakerjaan. Partisipasi angkatan kerja perempuan, kesenjangan gender dan working environment sebelum dan sesudah COVID: Tantangan kebijakan”.

Ruang Diskusi Kelompok Rentan

Pemerintah telah mengucurkan ratusan trliyun bantuan Sosial pada tahun 2020. Dan akan melanjutkannya pada tahun 2021. Ini sebetulnya bukan untuk membuat penduduk rentan bangkit dari keterpurukannya. Tetapi sekedar tidak jatuh terjerembab semakin dalam akibat dampak pandemik ini.

Oleh karena itu perlu ada kebijakan makro yang tidak hanya pada pemberian bantuan sosial. Tetapi juga kebijakan yang melembaga. Sebagai langkah awal perlu adanya pemetaan sektor-sektor mana yang sangat terdampak paling dalam. Lalu sektor-sekor mana yang masih bertahan, dan bahkan masih bisa tumbuh positif karena memanfaatkan momentum.

Perlu ada grand strategy untuk mempercepat pemulihan sektor-sektor yang terdampak paling dalam. Seperti UMKM, platform e-dagang, pariwisata, konstruksi, transportasi dan sektor jasa lainnya. Dengan berjalannya sektor tersebut, maka akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan pada akhirnya mampu memberikan perlindungan sosial yang optimal bagi kelompok rentan tersebut.

Penutup

Pada kesempatan terakhir, Prof. Bambang Shregi Lasmono memberikan beberpa pernyataan penutup. Seperti apresisi terhadap adanya seminar seperti ini. Selain itu juga terkait bagaimana para pemimpin instansi dan lembaga dalam menyikapi dan memahami konsep ‘negara hadir’ yang berbeda-beda. Padahal menurutnya, negara hadir bisa juga dengan melibatkan atau menjalin kemitraan dengan para mitra kerjanya.   

Catatan Seminar Daring Kelompok Rentan dan Pandemi Covid-19

Baca Juga : Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Jenis dan Fungsinya

Ekonomi Makro

  • Status kemiskinan ketika saat pandemi Covid-19 dan pasca pandemi nanti (kedepan). Pada Maret 2020, ketika pandemi Covid-19 ‘menghantam’ Indonesia, kondisi kemiskinan meningkat signifikan. Padahal saat itu, Pemerintah sudah mampu menekan persentase jumlah penduduk miskin di Indonesia dibawah angka dua digit.
  • Respon Pemerintah dengan memberikan Bantuan Sosial, relatif berdampak positif. Meskipun tidak secara keseluruhan.
  • Ketika ‘mobilitas’ penduduk (pekerja) di provinsi – provinsi padat penduduk berkurang akibat PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), ternyata berpengaruh terhadap indeks kemiskinan. Meskipun hal itu terjadi perbedaan pandangan, karena saat itu masih bulan Maret 2020.
  • Krisis (ekonomi) yang terjadi pada tahun 1999 akibat dari upaya mengurangi ketimpangan. Sementara krisis (ekonomi) tahun 2020 akibat Covid-19 ini, dapat menambah ketimpangan yang terjadi.
  • Selain kemiskinan dan ketimpangan, satu hal menarik lainnya adalah terkait kerentanan. Artinya adalah, betapa mudahnya masyarakat di indonesia bergeser status perekonomiannya. Ketika ada suatu hantaman semisal Covid-19 ini, masyarakat yang sudah mulai mapan namun berada dalam ketimpangan kondisi yang ada, ternyata mudah kembali menuju ke kemiskinan kembali.
  • Standar pendapatan di Indonesia masih sangat rendah, yaitu $ 1,9 per hari. Dan ini masih masuk dalam kategori lower median dari negara-negara low income. Untuk negara dalam kategori median-upper income itu $ 3.1 perhari, sedangkan upper income mencapai $ 5.5 perhari. Karena substandar ini yang menjadi kerentanan, sehingga jika ada shock bisa bubar.  
  • Hal menarik lainnya ketika Covid-19 adanya Struktur transformation reversal. Banyak masyarakat pekerja yang beralih dari manifaktur ke area agricultural (bagi yang kembali ke kampung dan memiliki lahan). Lainnya yang bertahan dan tidak memiliki lahan yang digarap, beralih ke retail. Artinya para pekerja menjadi informal dari pekerja formal.

Psikologis

  • Masalah kepemimpinan di Indonesia ini bukan terkait bodoh atau tidaknya pemimpinnya. Tetapi pada kemampuannya atau ketidakmampuannya dalam mengambil pilihan atau cara – cara yang tepat dengan informasi dan data – data yang ada dan dimiliki.
  • Apakah pemerintah mampu mengatasi masalah – masalah yang ada di negeri ini ? tergantung ! Birokrasi diciptakan sebagai infrastruktur untuk mengaktualisasikan ide dan tindakan, policy (kebijakan) menjadi program dan kegiatan dari Pemimpin. Dan akan menjadi sulit, jika birokrasi dan pimpinan (instansi dan/atau lembaga)-nya ‘terkoyak’ oleh dinamika politik. Bahkan lupa atau jauh dari tujuan akhir politik sebagai upaya menuju kesejahteraan publik.
  • Perlu lebih melibatkan partisipasi masyarakat – deeping the politics.     
  • Perlu upaya kebijakan yang mempercepat pelaksanaan. Ambil contoh seperti HIV – Aids, kasus ini sudah lebih dari 25 tahun muncul di Indonesia. Tetapi baru 2016 adanya upaya mempercepat pengadaan obat ARV (antiretroviral) untuk mencegah efek dari HIV –Aids.
  • Pemerintah kerap membuat kebijakan, tetapi kerap lupa melakukan mitigasi terhadap dampak dampak buruk yang harus ditanggung masyarakat.
  • Para akademisi sering menemukan dan mencari fakta, rumusan, data untuk menjadi acuan dalam pelaksanaan. Tetapi juga sering ‘frustrasi’ karena apa yang telah dilakukan tidak terakomodir. Oleh karenanya, para praktisi perlu juga melihat ‘ruang – ruang sempit’ yang telah dilakukan oleh teman – teman LSM organik.

Praktis

  • Covid-19 tentu berdampak pada penurunan kuantitas hasil produksi barang/jasa; pengurangan jam kerja bagi pekerja sektor formal; Kualitas hasil produk/jasa menjadi menurun; Keterbatasan aksesibilitas; dan juga kelompok – kelompok pekerja tertentu yang rentan.
  • Hasil temuan di Indonesia, dari sebanyak 521 pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang menjadi sample, ditemukan dua pertiga dari mereka uhanya berhenti.
  • Setidaknya ada 4 pilar utama yang perlu diperhatikan. Pertama terkait stimulasi ekonomi; kedua upaya untuk mendukung perusahaan, pekerjaan dan pendapatan; ketiga perlindungan bagi pekerja di tempat kerja; dan keempat penggunaan dialog sosial untuk menemukan solusi.

Untuk lebih lengkapnya silakan lihat rekamannya dalam chanel youtube berikut :

Webinar Program Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI “Kebijakan untuk Melindungi Kelompok Rentan dan Mengurangi Ketimpangan pada Masa Pandemi Covid-19 dan Masa Depan: Isu pada Akses Layanan dan Pemanfaatan Bukti Ilmiah.

Apakah ada komentar

%d blogger menyukai ini: