Kehidupan Gelandangan : Citra dan Cermin Wajah Masyarakat

pekerja sosial sebagai profesional

Masalah Sosial mengenai Gelandangan

Gelandangan Menyebabkan masalah sosial lainnya

Kehidupan ini memiliki banyak sekali permasalahan yang mesti dihadapi. Masalah Gelandangan merupakan salah satu sumber munculnya masalah sosial lain seperti pelacuran, kejahatan, pengemis, anak-anak jalanan, pemukiman liar, lingkungan yang tidak aman dan bentuk penyimpangan sosial lainnya.

Hal tersebut ditegaskan oleh Vembriarto (1984), masalah sosial adalah kondisi atau proses dalam masyarakat yang dilihat dari satu sudut tidak diinginkan, namun masih mungkin dilakukan pemecahan masalahnya.

Keterkaitan ini semakin jelas jika menggunakan sudut pandang masyarakat normatif. Masyarakat normatif akan memandang mereka sebagai komunitas yang tidak mempunyai harga diri, menempati kelas sosial terendah, merusak keindahan lingkungan dan mengganggu ketenangan atau ketentraman di tempat-tempat umum.

Pandangan Mengenai Gelandangan

Menurut Onghokam (1988), Gelandangan berasal dari kata gelandang memiliki arti “yang selalu mengembara”, “yang berkelana” (lelana). Gelandangan dapat dilukiskan sebagai orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan layak serta makan disembarang tempat.

Deskripsi yang tidak jauh berbeda disampaikan oleh antropolog, Suparlan (1988) yang menyatakan  bahwa Gelandangan tidak mempunyai pekerjaan dan tempat tinggal tetap, masyarakat menempatkan mereka dalam “stereotype” tak menetap, kotor dan tidak jujur.

Selanjutnya Sadli (1988), secara lebih lengkap mendefinisikan Gelandangan sebagai kelompok masyarakat yang hidup dalam kondisi “serba tidak”, karena biasanya mereka tidak mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP); tidak mempunyai tempat tinggal tetap; tidak mempunyai penghasilan tetap; tidak dapat merencanakan hari depan baik untuk anak-anaknya maupun dirinya; tidak terjangkau oleh pelayanan sosial yang ada; tidak mengetahui apa yang akan dimakan; mereka tidak berpendidikan formal; tidak dapat memberi bimbingan kepada anak-anak dan lain sebagainya (Sadli, 1988:125).

Gambaran Mengenai Gelandangan

Gambaran umum

Gelandangan menurut Muthalib dan Sudjarwo dalam Ali dkk, (1990) merupakan sekelompok orang miskin atau dimiskinkan oleh masyarakat, orang yang disingkirkan dari khalayak ramai, orang yang berpola hidup agar mampu bertahan dalam kemiskinan dan keterasingan.

Gelandangan Dalam Tatanan Kehidupan Masyarakat

Kehidupan Gelandangan merupakan salah satu kehidupan yang berbeda dengan kehidupan masyarakat kota pada umumnya. Gelandangan cenderung ditempatkan dalam posisi kurang diuntungkan atau dipandang sebagai suatu kehidupan yang bercitra negatif.

Mengutip pendapat Wirosardjono dalam Ali dkk, (1990), bahwa Gelandangan merupakan lapisan sosial, ekonomi, dan budaya paling buruk dalam stratifikasi masyarakat kota. Dengan strata demikian maka Gelandangan merupakan orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal atau rumah dan pekerjaan yang tetap atau layak, berkeliaran di dalam kota, makan minum serta tidur di sembarang tempat.

Menurut Muthalib dan Sudjarwo dalam Ali dkk, (1990), ada tiga gambaran umum Gelandangan:

  1. sekelompok orang miskin atau dimiskinkan oleh masyarakatnya;
  2. orang yang disingkirkan dari kehidupan khalayak ramai;
  3. orang yang berpola hidup agar mampu bertahan dalam kemiskinan dan keterampilan.

Gelandangan Dalam perspektif psikologi

Faktor dominan yang mempengaruhi seseorang menggelandang adalah sikap mental individu dalam melakukan penyesuaian diri pada berbagai situasi. Seperti yang dinyatakan Kartono (1985), gangguan emosional dan kekalutan mental banyak muncul pada masa transisi dimana terjadi perubahan tatanan budaya, misalnya dari era agraris menuju era industrialisasi. Hal ini menunjukkan, bahwa untuk menjadi Gelandangan bukan semata-mata masalah ekonomi.

Gelandangan membawa citra negatif

Kehidupan gelandangan dipandang oleh masyarakat dan pemerintah sebagai kelompok yang mengotori atau mengganggu keindahan, kenyamanan dan keamanan lingkungan perkotaan.

Meskipun berbagai citra negatif terhadap keberadaan Gelandangan di wilayah perkotaan telah dilontarkan, namun pada kenyataannya jumlah Gelandangan relatif tidak berkurang.

Kondisi ini menunjukkan selama pemerintah dan masyarakat belum memberikan “ruang” bagi semua golongan masyarakat, tentu fenomena Gelandangan masih tetap hadir dan menghiasi kehidupan kota. Dan akan menyebabkan bertambahnya jumlah Gelandangan, serta semakin kompleksnya permasalahan sosial pada masyarakat perkotaan.

Kompleksitas Masalah Gelandangan

Masalah Kesejahteraan Sosial

Masalah Gelandangan merupakan salah satu masalah kesejahteraan sosial yang sangat kompleks dan tidak hanya menyangkut masalah sosial ekonomi, tetapi menyangkut masalah psikologik, sosial budaya yang dikhawatirkan akan menimbulkan keresahan masyarakat, gangguan ketertiban dan keamanan serta gangguan terhadap lingkungan masyarakat khususnya di kota-kota besar.

Baca Juga :

Satu hal yang harus diperhatikan, bahwa keberadaan Gelandangan bukan hanya terkait dengan masalah keamanan, ketertiban, keindahan kota melainkan lebih dari itu, Gelandangan adalah masalah sistemik-keadilan, pemerataan, hak asasi manusia dan persoalan kemanusiaan lainnya.

Berdampak pada berbagai Dimensi

Fenomena Gelandangan tidak cukup hanya dijelaskan sebagai dampak dari pembangunan, modernisasi maupun akibat dari industrialisasi. Bahwa proses transformasi sosial yang terjadi pada komunitas Gelandangan bukan hanya disebabkan dan berdampak pada dimensi politik, sosial, ekonomi saja melainkan juga pada aspek spiritualitas, keberagaman dan bangunan ‘word view’ masyarakat (Irwan Abdullah dalam Maghfur Ahmad; 2008).

Dengan demikian bisa dipahami bahwa gejala Gelandangan mempunyai kelekatan dengan permasalahan-permasalahan lain baik ekstern maupun intern, seperti ekonomi, psikologi, sosial, budaya, lingkungan dan pendidikan (Suprihadi dalam Maghfur Ahmad; 1998).

Upaya Eksistensi Diri

Dengan segala keterbatasan baik peluang, kesempatan, pengakuan akan keberadaan komunitas Gelandangan di kota. Teori struktur-fungsionalis menyatakan bahwa Gelandangan sebagai kelompok kelas bawah dalam struktur masyarakat, berupaya untuk mengungkapkan jati dirinya atau keberadaannya dengan menggeluti pekerjaan secara mandiri misal sektor informal sebagai bentuk resistensi terhadap pembangunan yang lebih berpihak pada sektor formal.

Wajah Masyarakat Bawah

Gelandangan merupakan wajah masyarakat yang tidak berdaya, tidak memiliki ketrampilan, berpendidikan rendah, tidak memiliki modal, tidak mampu bersaing di sektor formal, oleh karena itu mereka bekerja di sektor informal atau serabutan, bekerja apa saja pada sektor yang tidak membutuhkan pengetahuan, kemampuan, dan modal.

Mereka menggeluti pekerjaan sebagai pemulung, pengamen, pengemis, pengasong, tukang semir sepatu, semua ini dilakukan untuk kelangsungan hidup Gelandangan di tengah-tengah kehidupan masyarakat perkotaan.

Faktor Penyebab Munculnya Gelandangan

Faktor penyebab munculnya Gelandangan, dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu faktor intern dan ekstern. Demikian juga hasil penelitian Artidjo Alkostar (1984:120-121) bahwa munculnya kaum Gelandangan disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal.

Faktor internal meliputi sifat malas, tidak mau bekerja, mental yang tidak kuat, adanya cacat fisik maupun cacat psikis. Sedangkan faktor eksternal meliputi faktor sosial, kultural, ekonomi, pendidikan, lingkungan, agama, dan letak geografis.

Ironi Gelandangan dan Indonesia

Sementara itu cukup ironis, karena sampai saat ini komunitas Gelandangan dipandang selalu bercitra negatif seperti mengganggu keindahan, kenyamanan, keamanan dan ketertiban kota.

Padahal Indonesia merupakan negara yang memiliki cita-cita dan senantiasa berupaya mensejahterakan warga negaranya. Bahkan secara tegas diatur dalam UUD 1945 dan UU No 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, bahwa pemerintah bertanggungjawab sepenuhnya akan kesejahteraan bagi semua warga negara.

Cerita dari Lapangan

Kehidupan sebagai Gelandangan bukan merupakan pilihan atau cita-cita mereka, semua ini karena keadaan yang menyebabkan mereka masuk dalam kehidupan sebagai Gelandangan. Suatu kehidupan yang tidak terbayangkan dan terpikirkan akan mereka jalani.

AA (32 tahun) pemulung di TPA selama 12 tahun.

“Kehidupan di sekitar sampah dan mengais-ais, mengkorek-korek sampah, sesuatu yang tidak terpikirkan sama sekali untuk melakukannya. Semua orang tidak mungkin memilih kehidupan ini, hal yang menimpa saya lebih karena keadaan yang menyebabkan saya tinggal dan berada dalam lingkungan seperti ini “.

“Suatu kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan masyarakat normal, sebelumnya merupakan kehidupan yang pernah saya jalani, kehidupan yang normal dan layak”.

G (27 tahun) mantan pecandu narkoba

Ia terpaksa menjalani hidup secara bebas (menggelandang), dengan tanpa terikat norma masyarakat. Pilihan tersebut dikarenakan masyarakat yang cenderung tidak mau menerimanya. Hal tersebut menyebabkan ia merrasa terbuang dan tersingkirkan. Rasa kecewa yang teramat sangat memaksanya untuk berada pada kehidupan yang berbeda, suatu kehidupan yang lebih dapat menerimanya dengan aturan-aturan yang lebih ‘sederhana dan fleksibel’.

Pengalaman hidup dan permasalahan hidup yang dialami AA dan G, menjadikan mereka hidup dalam komunitas Gelandangan, suatu kehidupan yang jauh dari pemikiran dan cita-cita mereka.

Sumber :

Diambil dan diolah dari Jurnal PKS Vol 12 No 2 Juni 2013; 125 – 138; Strategi Survival Gelandangan di Kota Manado oleh T.Y. Tursilarini.

Apakah ada komentar

%d blogger menyukai ini: