Hari ini

Hari Ini Kita Hidup

Jika datang waktu pagi maka janganlah menunggu tibanya sore. Hidup kita adalah hari ini, saat ini. Hari ini kita hidup dengan segala kebaikan dan keburukannya. Bukan kemarin yang telah berlalu. Dan bukan pula hari esok yang belum tentu datang.

Hari ini matahari menyinari kita. Umur kita hanya hari ini atau saat ini saja. Karena itu anggaplah rentang kehidupan kita adalah saat ini saja. Seakan-akan kita terlahir pada hari ini dan akan mati saat ini juga.

Sesingkat itulah hidup kita. Jangan terlalu resah dengan beban masa lalu yang sulit, sehingga membelenggu untuk memulai aktivitas baik saat ini juga.

Jangan pula terikat dengan ketidakpastian-ketidakpastian, suatu masa yang penuh dengan hal-hal yang menakutkan serta gelombang yang sangat mengerikan.

Hari ini
Gambar oleh Myriams-Fotos dari Pixabay

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata : Rasululloh SAW pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata : “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati” (THR. Bukhori).

Hari Ini Saatnya ?

Memiliki Kesungguhan Hati

Hanya hari ini saja kita hidup. Sudah semestinya hari ini kita mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Bersibuk diri dengan mersembahkan aktivitas-aktivitas penuh kualitas. Shalat yang khusyu’, membaca Al-Quran dan maknanya, serta berddzikir setulus hati.

Mulailah jujur terhadap diri sendiri. Untuk berkemauan keras dalam menundukkan nafsu jiwa. Tanamkanlah

kita pada teori ini : “Saya tidak akan pernah hidup kecuali hari ini.” Oleh karena itu, manfaatkanlah hari ini, setiap detiknya, untuk membangun kepribadian, untuk mengembangkan semua potensi yang ada, dan untuk membersihkan amalan kita. Karena kita hanya hidup untuk hari ini saja maka kita akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, melakukan shalat sesempurna mungkin, melakukan shalat-shalat nafilah sebagai bekal untuk diri sendiri, bergelut dengan Al-Qur’an, mengkaji buku-buku yang ada, mencatat hal-hal yang perlu, dan menelaah buku yang bermanfaat.

Berikan keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak dan kerelaan dengan semua yang Allah berikan. Curahkan perhatian terhadap keadaan sekitar, pada jiwa dan raga, serta bersosial dengan santun terhadap sesama. Karena hanya untuk hari ini saja, saat ini saja kita hidup.

Selalu Waspada

Kita harus benar-benar cermat dalam bermain dengan waktu. Anggaplah setiap menitnya sebagai hitungan tahun, dan setiap detiknya sebagai hitungan bulan, saat-saat di mana kita bisa menanam kebaikan dan mempersembahkan sesuatu yang indah.

Beristighfarlah atas semua dosa, ingatlah selalu kepada- Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan nanti, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan. Terimalah rezeki yang kita dapatkan dari Allah hari ini dengan penuh keridhaan.

“Maka berpegang-teguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS Al-A’raf: 144)

Untuk Bersegera

Banyak orang yang sering menunda amal saleh hanya karena beberapa alasan. Mau bersedekah, ditunda sampai tabungan banyak. Mau shalat dzuhur, masih menunggu waktu yang mendekati shalat ashar. Dan banyak lagi contoh sehari-hari yang sepertinya sepele, namun tidak baik jika dipelihara seterusnya.

Bukankah Nabi berpesan kepada kita untuk selalu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya ? Imam Muslim meriwayatkan dalam hadisnya :

“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Bersegeralah beramal, sebelum datang fitnah (ujian, godaan, keadaan genting yang sulit membedakan antara yang haq dengan yang batil) laksana lipatan malam yang gelap, pada pagi hari seorang menjadi seorang yang beriman dan di sore hari menjadi seorang yang kafir atau sore hari menjadi seorang yang beriman dan pagi hari menjadi seorang yang kafir, (karena) ia menjual agamanya (hanya) dengan sebagian dari dunia.” (THR. Muslim).

Sifat menunda hanya akan membawa kerugian pada diri kita di dunia. Dan penyesalan jauh lebih dalam nantinya di akhirat.

Karena jika kita renungkan lebih dalam, bahwa kematian tidak akan pernah bisa ditunda, ia datang kapan saja. Bayangkan jika kita mati dalam keadaan belum melakukan kebaikan apapun, karena selama ini hidup kita penuh dengan menunda-nunda.

Menanam Keutamaan

Kita hidup untuk hari ini saja, karenanya kita akan menanam nilai-nilai keutamaan di dalam hati ini dan mencabut pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri: takabur, ujub, riya’, dan buruk sangka.

Kita hidup untuk hari ini saja, karenanya kita akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kebaikan kepada mereka: menjenguk yang sakit, mengantarkan jenazah, menunjukkan jalan yang benar bagi yang kebingungan, memberi makan orang kelaparan, menolong orang yang sedang dalam kesulitan, membantu yang dizhalimi, membantu yang lemah, mengasihi yang menderita, menghormati seorang yang alim, menyayangi anak kecil, dan menghormati yang lebih tua.

Baca Juga :

Masa lalu dan Masa Depan

Masa Lalu Adalah Sejarah

Kita hidup untuk hari ini saja, maka kita perlu belajar untuk mengucapkan,

“Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah bersama mataharimu. Aku tidak akan menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihatku tercenung sedetikpun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.”

Masa Depan Adalah Berkah

Untuk masa depan yang tidak adanya kepastian, kita sampaikan,

“Wahai masa depan, engkau penuh dengan keghaiban, aku tidak akan pernah bergantung pada mimpi dan kesemuan harapan. Aku juga tidak akan pernah menjual diri untuk ilusi. Aku tidak memburu sesuatu yang belum tentu ada karena engkau (esok hari) tidak berarti apa-apa, jika hari ini aku tidak melakukan sesuatu yang berarti, engkau pun belum lagi diciptakan, dan mungkin juga tak pantas untuk dikenangkan.

Untuk hari ini kita katakan :

“Wahai hari ini, engkaulah saat hidupku”, adalah ungkapan yang paling optimis dalam kamus kehidupan. Kamus bagi mereka yang menginginkan kepastian yang paling meyakinkan dan menenangkan.

Wallahu’alam

Nb : Kiriman WAG berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *