Kewirausahaan Sosial, Alternatif Bisnis di Indonesia

Kewirausahaan Sosial

Indonesia merupakan negara besar dan berada pada posisi yang sangat strategis. Secara geografis dan geopolitis, Indonesia menjadi ‘Crossing gates’ (jembatan penghubung) bagi kehidupan pada 2 (dua) benua, yaitu Asia dan Australia. Indonesia juga menjadi jalur pelayaran yang menghubungkan 2 (dua) samudera, yakni Pasifik dan Hindia.

Selain itu, kandungan mineral yang tersimpan pada perut bumi Indonesia pun ‘masih’ sangat potensial. Lalu ada kawasan perairan dan kelautan yang indah dan beranekaragam. Belum lagi panorama, kesuburan tanahnya menjadikan alam Indonesia kaya akan daya tarik. Banyaknya jumlah penduduk (jelang bonus demografi) menjadikan Indonesia sebagai sumber tenaga sekaligus menjadi pasar tersendiri.

Tidak bisa kita hindari masuknya agenda ‘digital’ di Indonesia. Mulai dari generasi ‘milenial‘, generasi ‘xyz’, dan generasi ‘baby boomers’, hingga yang lebih salaf sekalipun, hampir semua generasi tersebut menggenggam android, IoS, serta android dan IoS sekaligus.

Mungkin hanya orang seperti Bruce Banner (baca: pelarian) yang tidak menggunakan perangkat elektronik apapun dalam kesehariannya, karena memang sedang menyembunyikan identitasnya agar tidak terlacak keberdaannya, termasuk oleh ‘golden eye‘ (baca : intaian kamera).

Banyak hasil penelitian menyebutkan kondisi kemiskinan di Indonesia masih cukup tinggi. Untuk yang masih penasaran, bolehlah menengok hasil penelitian lembaga indpenden maupun dari Pemerintah. Entah itu dari sampai ke World Bank, ADB (Asian Development Bank) maupun lembaga funding lainnya atau pun tidak terkait pertumbuhan ekonomi, tingkat Kesejahteraan di Indonesia, atau lainnya dari tahun ke tahun.

Meskipun demikian, secara indeks kebahagiaan orang Indonesia terbilang cukup tinggi. Sehingga menjadi anomali tersendiri, karena pada saat tingkat materi menjadi indikator kebahagiaan di banyak negara, namun tidak terlalu berpengaruh terhadap tingkat kebahagiaan di Indonesia.

Kondisi Indonesia Kini

Berkembangnya teknologi informasi mempermudah akses bagi siapa pun untuk memperoleh data apa saja, darimana saja dan pada saat kapan pun menginginkannya. Bahkan individu-individu yang melek IT dan rajin ‘surfing’ bisa saja lebih menguasai medan pertempuran atau ajang perlombaan hidup saat ini.

Kita tidak boleh hanya diam dan berharap tetesan air yang timbul dari trickle down dari derap laju pembangunan. Dunia menuntut masyarakat Indonesia untuk terus aktif, cepat, tepat dan responsif terhadap perubahan dari perkembangan zaman.

Masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang belum rampung dari pembangunan. Sangat sulit bagi pembangunan untuk menjangkau semua. Berharap – harap untuk mendapat setetes proyek pembangunan tapi terlupakan, kan lebih ‘sakit’ daripada sudah memiliki proyek sendiri terus terkena iuran pajaknya, iya nggak sih ? hehehe… ssst, jangan baper gitu ah, ntar kedengaran kantor pajak.

Untuk berubah terkadang orang tidak perlu alasan. Kalau masih ada yang jawab “nunggu wahyu aja”, tanya wahyu datangnya darimana ? mau nunggu sampai kapan ? Nah seperti itulah kira-kira, jadi kalau mau berubah lebih baik ya mulai aja.

Tapi memang alangkah lebih baik lagi kalau wahyunya sudah datang. Jadi tujuannya udah ketemu, langkah-langkahnya juga sudah ada, termasuk sketsanya. tapi sekedar catatan !, LEBIH BAIK, bukannya HARUS. Jadi yang penting apa pun makanannya, minumnya itu harus niat dulu, mulai niat menjadi wirausahawan sosial, kenapa tidak ?!

Kewirausahaan Sosial Sebagai Alternatif

Untuk memulai kewirausahaan sosial, ada baiknya kamu menjawab dulu bagaimana cara menjawab 4 (empat) tahap yang ada berikut :

Masalah sosial dan peluang kewirausahaan sosial

Apakah ada masalah sosial pada sekitar kamu ? kira – kira bagaimana cara -cara penanganannya ? dan dari penanganan yang ada, peluang bisnis atau usaha apa yang dapat dilakukan ?

Oleh karena itu penting melakukan identifikasi, sehingga akan diperoleh ranking masalah sosial, cara penanganan, dan potensi ekonomis yang dapat diambil. Untuk melakukan perangkingan dapat dengan melihat masalah sosial terkecil/ ringan namun berpotensi secara ekonomis, hingga masalah sosial terbesar yang ada namun sangat tidak ekonomis untuk dijadikan usaha.

Tawarankan solusi

Setelah kamu mengidentifikasi masalah dan peluang ekonomis dan kamu dapatkan hasil perankingannya. Pilih yang akan menjadi prioritas, komunitas atau kelompok kamu. Lempar dan tawarkan kepada calon penerima manfaat, masyarakat atau stakeholder yang ada untuk menjadi solusi sekaligus usaha ekonomis.

Contoh pada sebuah desa ABC terjadi panen raya semangka, yang menjadi masalah bagi petani semangka adalah pemasaran (biaya angkut, cari pembeli, dan ongkos-ongkos lainnya). Peluang ekonomisnya adalah bagaimana menjual semangka tentunya. Ketika ada iklan “makan semangka sepuasnya hanya dengan Rp. 10.000,- Stok terbatas, Syarat dan Ketentuan berlaku”, maka akan menjadi daya tarik bagi para penikmat buah semangka untuk menikmati semangka dengan harga terjangkau, bahkan bisa sambil bawa keluarga ke lokasi. Sehingga semangka habis, selama masa berlaku. Area kebun menjadi destinasi wisata dan pasar dadakan.

Kewirausahaan Sosial
Image by vicran from Pixabay

Pihak yang terlibat

Sebelum memulai berwirausaha sosial, tentu perlu memperhatikan siapa pihak – pihak potensial yang akan terlibat dalam usaha yang akan kamu rintis. Pihak potensial bisa berasal dari pemilik masalah, bisa juga berasal dari pihak yang dapat memberikan dukungan atas solusi yang kamu tawarkan.

Tetapi yang perlu kamu pastikan, mereka semua memahami inti usaha yang akan kamu lakukan. Agar tidak terjadi salah persepsi dan terjadi kekecewaan nantinya.

Sistem atau model bisnis sosial

Ada banyak sistem dan model bisnis sosial dalam menerapkan kewirausahaan sosial. Tergantung pada pada yang menyelenggarakannya. Termasuk sponsor atau pendukung utama yang ‘melabelinya’.

Secara umum ada beberapa model-model bisnis yang dapat diadopsi, seperti :

  • model kewirausahaan sosial yang metode operasional (program sosial) – nya terintegrasi dalam kegiatan usaha;
  • model kewirausahaan sosial yang model opersional (program sosial) – nya bersinggungan dengan kegiatan usaha; dan
  • model kewirausahaan social yang model operional (program sosial) – nya terpisah dengan kegiatan Usaha.

Kesimpulan

Untuk memulai kewirausahaan sosial tentu memiliki banyak tantangan. Seperti memiliki kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan tetapi belum mempunyai mental dan keterampilan wirausaha, atau sudah memiliki bisnis yang sudah berkembang dan maju, tetapi jiwa empati dan sosial lemah.

Sehingga perlu ada upaya – upaya untuk membangun mental wirausaha dan kesadaran sosial; meningkatkan keterampilan berbisnis; serta menggali modal finansial sekaligus modal sosial.

Baca Juga :

Apakah ada komentar

%d blogger menyukai ini: